Pages

Showing posts with label komoditi. Show all posts
Showing posts with label komoditi. Show all posts

November 26, 2010

Ekspor Kakao Sumut Melonjak 937,97%

Setelah pada September 2010 aktivitas ekspor kakao Sumatera Utara (Sumut) melalui terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT) melorot hingga titik terendah yakni 927 ton, di bulan Oktober aktivitas ekspornya melonjak sangat fantastis.

Selain bangkit dari keterpurukan, kenaikan ekspornya juga melambung tinggi hingga mencapai 937,97%. Bukan itu saja, bahkan sejak tahun 2007, aktivitas ekspor di bulan Oktober 2010 merupakan rekor tertinggi. Humas Pelindo I BICT H Suratman akhir pekan lalu kepada MedanBisnis mengatakan, September lalu ekspor kakao Sumut yang dikapalkan menggunakan peti kemas lewat BICT mencapai titik terendah yakni hanya sebanyak 927 ton. Namun di bulan Oktober 2010 ujar juru bicara pengelola terminal peti kemas terkemuka di luar Pulau Jawa itu, aktivitas ekspor kakao Sumut lewat BICT melonjak drastis yakni mencapai 9.622 ton atau naik sekitar 937,97%.

Bahkan menurut Suratman, sejak dekade 2007 jumlah ekspor kakao Sumut selama Oktober merupakan rekor tertinggi. Sebab sebelumnya rekor tertinggi ekspor kakao Sumut melalui BICT terjadi pada bulan Maret 2010 yakni sebanyak 7.066 ton. Dijelaskannya,selain itu secara kumulatif aktivitas ekspor kakao Sumut melalui BICT juga mengalami peningkatan yang signifikan. Hingga September 2010, papar Suratman, aktivitas ekspor kakao Sumut sebanyak 37.111 ton.

Sementara periode serupa 2009 jumlahnya 31.253 ton atau naik sekitar 18,74%. Sekadar diketahui, terhitung 1 April 2010 pemerintah mengenakan bea keluar (BK) terhadap komoditas kakao. Kebijakan ini untuk mendorong industri pengolahan biji kakao agar melakukan eksportasi menjadi produk jadi atau setengah jadi.
Sumber:medanbisnisdaily.com

Read More

November 19, 2010

CPO Naik, Harga Minyak Goreng Melonjak

Para produsen sawit di dalam negeri mengakui harga crude palm oil (CPO) internasional terus naik di luar dari perkiraan. Dibandingkan pada tahun lalu para produsen sawit di dunia termasuk lokal hanya memperkirakan dibawah US$ 1.000 per metrik ton.
Akan tetapi sampai dengan November 2010 harga semakin melonjak tinggi mencapai 1.115 dolar AS per metrik ton. Hal ini selain mengundang pengusaha untuk melakukan ekspor juga berakibat dengan naiknya harga minyak goreng lokal di pasaran.
Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatera Utara, Laksamana Adhyaksa di Medan, Kamis (18/11) menyatakan kenaikan harga sawit ini di luar perkiraan, otomatis berhubungan dengan kenaikan minyak goreng lokal.
“Kenaikan minyak goreng di pasaran dalam negeri khususnya Sumatera Utara dimungkinkan karena harga CPO di dunia mengalami peningkatan. Otomatis dengan kenaikan CPO sebagai bahan baku minyak goreng mempengaruhi harga jual minyak goreng di pasar,” ujarnya.

Hasil laporan dari CIF Rotterdan, lanjutnya, harga pengapalan pada November 2010 harga CPO telah mencapai 1.115 dolar AS per metrik ton dan diperkirakan akan tetap tinggi bahkan semakin meningkat menjelang akhir tahun.
“Ini prediksi kita mengingat kebutuhan CPO dari luar negeri semakin meningkat seperti dari India, dan China kemudian disusul negara Eropa lainnya,” ujarnya.
Begitupun, lanjutnya, dengan harga yang semakin membaik itu memacu tingginya permintaan sehingga transaksi dagang sering tersendat karena penjual dan pembeli saling melakukan “wait and see”.
Harga ekspor yang menguat itu sendiri juga langsung berpengaruh kepada harga CPO di pasar lokal, dimana pada 5 November 2010 harga tender sudah mencapai Rp9.217 per kg dari harga sebelumnya Rp9.060 per kg.
“Bahkan saat ini mendekati Rp10.000, walaupun belum beranjak ke sana akan tetapi prediksi kita kemungkinan akan mendekati angka tersebut,” lanjutnya.
Sementara dengan kenaikan harga CPO di dunia harga minyak goreng di pasar tradisional pun mengalami kenaikan dari Rp 8.800 per kg menjadi Rp9.800 bahkan di eceran mencapai Rp10.000 s/d Rp10.500 per kg.
Sedangkan untuk minyak goreng curah putih dari sebelumnya Rp11.000 naik menjadi Rp12.000 per kg bahkan di eceran tidak banyak yang menjual kecuali kemasan seperti kantungan satu liter ataupun dua liter dengan harga Rp12.000 s/d Rp15.000 per kantungan satu liternya.
Hasibuan, pedagang pasar tradisional Pusat Pasar menyatakan harga minyak goreng curah mengalami kenaikan yang dipatokkan dari distributor hal ini mengingat harga bahan bakunya mengalami kenaikan.
“Kenaikan harga CPO di dunia mempengaruhi harga bahan baku pembuatan minyak goreng curah sehingga otomatis harga pun mengalami kenaikan,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Panusunan Siregar menyebutkan, devisa dari lemak dan minyak hewan-nabati pada Januari-September 2010 naik 30,78 persen dibandingkan periode sama tahun lalu atau menjadi 2,552 miliar dolar AS.
Meskipun, kata dia, pada September 2010 devisa dari golongan barang itu sempat turun 38,12 persen dibandingkan Agustus atau tinggal 333,353 juta dolar AS. Ekspor minyak sawit itu terbesar ke India, China dan Eropa

Sumber:waspadamedan.com
Read More

November 16, 2010

Harga CPO Melambung Tinggi

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) saat ini mencapai rekor hingga menembus di atas 1.100 dolar AS per ton. Kenaikan harga yang menembus di atas ramalan harga tahun ini sebesar 800 dolar AS per ton itu dinilai akibat La Nina yang menekan produsen kelapa sawit.
"Ada masalah dengan supply and demand, pasar bergerak cepat," kata Bambang Aria Wisena, ketua Bidang Organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta, Senin (15/11).
Menurut Bambang, terdapat kegagalan panen di Ukraina dan Rusia, sehingga membuat produksi CPO turun. Di Indonesia, iklim yang buruk membuat target produksi meleset di bawah target, sehingga permintaan tinggi tidak didorong pasokan kelapa sawit yang bagus.

Saat ini, dia melanjutkan, kelapa sawit menjadi primadona investasi akibat orang mulai kehilangan kepercayaan kepada dolar Amerika Serikat. Apalagi, didorong harga CPO yang melambung tinggi, sedangkan kebutuhan manusia terhadap minyak nabati terus meningkat.
"Kebutuhan dunia mencapai 160 juta ton per tahun minyak nabati, 30 persen di antaranya dipenuhi CPO," ujar Bambang. Dia berharap, melambungnya harga CPO tersebut diharapkan dapat kembali normal seperti harga yang diprediksi sebelumnnya, yaitu US$800 per ton. Jika harga CPO terlalu tinggi, tentunya akan membebani masyarakat dengan mahalnya produk CPO yang ada di pasaran seperti minyak goreng.
Tingginya harga juga membuat banyak industri pengolah CPO melakukan penimbunan, karena ketakutan akan harga yang meningkat. Hal ini tentunya mendorong perusahaan pengolah CPO melakukan spekulasi dan menyebabkan harga semakin tinggi.
"Biasanya, mereka menyimpan basis produksi selama tiga bulan ke depan untuk mengantisipasi melonjaknya harga CPO. Idealnya harga US$800 per ton, karena kalau mahal kasihan juga masyarakat, harga minyak goreng jadi tinggi," katanya.
Sementara itu, pengusaha kelapa sawit mendesak pemerintah agar menggunakan mata uang rupiah untuk harga patokan ekspor (HPE) kelapa sawit Indonesia. Selama ini, transaksi harga masih menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.
Sumber:tribun-medan.com
Read More

November 12, 2010

Black Campaign Pengaruhi Ekspor Pinang Sumut

Aksi black campaign yang dilakukan India terhadap pinang Sumatera Utara (Sumut) untuk menjatuhkan aktivitas ekspornya tampaknya mulai berdampak negatif. Buktinya, hingga September 2010 jumlah ekspor pinang lewat terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT) turun sekitar 19%.
Padahal sebelum black campaign itu dilakukan, aktivitas ekspor pinang Sumut yang dikapalkan melalui terminal peti kemas BICT terus naik kendati kenaikannya relatif kecil.
Asisten Manajer Hukum dan Humas Pelindo I BICT Suratman kepada MedanBisnis, Jumat kemarin mengatakan, sebelum India memberlakukan bea masuk (BM) sebesar 10%-15% untuk pinang Sumut, aktivitas ekspor pinang Sumut terus meningkat.
Menurut Suratman, selama Januari-September 2010 jumlah ekspor pinang Sumut yang dikapalkan melalui dermaga internasional BICT sebanyak 85.009 ton. Sementara periode serupa 2009 sebanyak 104.845 ton atau turun sekitar 19%.
Padahal, kata Suratman, sebelumnya ekspor pinang Sumut melalui BICT terus naik meski kenaikannya relatif kecil. Selama Januari-September 2007, ujar Suratman, ekspor pinang Sumut tercatat 101.547 ton atau naik sekitar 2,75% dibanding periode serupa 2008 yang jumlahnya 104.342 ton. Kemudian Januari - September 2009 kembali naik tipis menjadi 104.845 ton. “Meski kenaikannya kecil, tapi yang pasti selama periode itu ekspornya tetap naik,” imbuh Suratman.
Sebelumnya, Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Subdis Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia, mengatakan, setelah mengisukan pinang Sumut tidak baik untuk kesehatan, India ternyata mengenakan BM sangat tinggi untuk komoditas pinang.
Fitra mengemukakan, sebelum adanya peningkatan BM, pemerintah India mengisukan jika menggunakan pinang dari Indonesia termasuk Sumut akan mengakibatkan kanker gusi. Tapi isu itu pun tidak didengar oleh buyer dan masyarakat India sendiri. Mereka malah tetap memilih menggunakan pinang dari Indonesia karena kualitasnya lebih bagus.
Fitra mengatakan, oleh karena itu ekspor pinang yang tadinya ke India pun akhirnya dialihkan ke Pakistan. “Selain India dan Pakistan, permintaan biji pinang Sumut datang dari China, Bangladesh dan Thailand,” ujar Fitra.
Sumber:medanbisnisdaily.com
Read More

September 19, 2010

Inalum Incar 254 Ribu Ton Ingot

Produksi PT Inalum selama 2010 diproyeksikan mencapai 254 ribu tonaluminium ingot. Tahun lalu, produksi aluminium PT Inalum mencapai 256 ribu ton, jauh melebihi kapasitas terpasang di pabrik yang mencapai 225 ribu ton. “Operasional yang baik dan lancar ini dikarenakan tinggi air muka Danau Toba yang stabil pada level 904 dari permukaan laut, dengan hasil pro-duksi melebihi dari kapasitas terpa-sang,” papar Direktur Umum dan SDM PT Inalum, Nasril Kamarud-din, di Medan, beberapa waktu yang lalu.

Meski harga aluminium di pasar dunia cenderung turun selama 2009, lanjutnya, namun Inalum tetap menunjukan performa yang baik. Indikasi itu terlihat dari pero-lehan laba bersih perusahaan yang mencapai US$ 101 juta. Bahkan, selama enam tahun berturut-turut, Inalum mampu mencetak laba di atas posisi US$ 100 juta.

Pihaknya optimis mampu men-capai target produksi itu, meng-ingat, terjaganya stabilitas kualitas debit Danau Toba secara baik, sehingga menopang produktifitas pabrik. Nasril menyatakan, pihak manajemen juga gencar melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Tak hanya itu, kehidupan para nelayan menjadi fokus perhatian yang tak kalah penting bagi managemen. “Melalui program rumpon, kesehatan, beasiswa, pemberdayaan dan modal bergulir untuk usaha kecil, juga bentuk pemberdayaan masyarakat nelayan di sekitar operasional perusahaan,” paparnya.

Sumber: harian-global.com
Read More

December 08, 2009

Aceh Siapkan Ekspor Perdana Kakao

Para petani dan perdagangan perkebunan kakao merencanakan akan melakukan ekspor perdana kakao ke Malaysia pada 9 Desember 2009. Ekspor perdana ini akan dilakukan melalui Pelabuhan Krueng Geukueh, Kabupaten Aceh Utara.

Hamzah Abdullah, Ketua Forum Kakao Aceh, yang dihubungi dari Banda Aceh awal pekan ini, mengatakan, ekspor perdana ini masih dalam tahap coba-coba, mengingat produksi kakao yang masih belum stabil. ”Kakao yang rencananya diekspor masih dalam bentuk biji mentah. Belum diolah di sini,” katanya.

Hamzah mengatakan, ekspor perdana ini baru bisa dilakukan setelah pemerintah memutuskan membuka kembali Pelabuhan Krueng Geukueh sebagai pelabuhan ekspor untuk wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya. Meskipun belum banyak kapal yang singgah di pelabuhan ini, para pengusaha berharap adanya konsistensi perusahaan pelayaran untuk tetap singgah dan mengangkut barang-barang ekspor dari wilayah pantai timur Aceh.

Sebuah perusahaan Malaysia, MCL Logistics (M) SDN BHD, akan membuka pelayaran langsung ke Krueng Geukueh yang akan dimulai pada 10 Desember 2009. Kapal khusus peti kemas yang berbobot mati 1.588 ton tersebut dijadwalkan akan melayani pelayaran Penang-Krueng Geukueh empat kali dalam sebulan.

Ongkos

Ekspor dari Krueng Geukueh masih baru sehingga komoditas yang akan dibawa belum maksimal. Akibatnya, perusahaan kapal akan menetapkan ongkos lebih tinggi. Kapasitas kapal MCL Logistics mencapai 140 peti kemas (ukuran 20 kaki), tetapi karena masih perdana hanya ada 40 unit sehingga agar tidak rugi, pihak kapal akan menetapkan biaya yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, dia mengatakan, ekspor kakao perdana tersebut masih dalam bentuk mentah karena para petani belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai nilai tambah produk kakao pascapanen. Dengan kadar air sekitar empat persen, dirinya berharap kakao Aceh bisa diterima dan dikenal di pasaran internasional.

Dalam pertemuan Forum Bisnis Aceh II yang digagas International Finance Corporation, beberapa permasalahan utama dalam produksi kakao di antaranya masih sangat rendahnya pengetahuan petani tentang teknik manajemen hama dan penyakit.

Di samping itu, para petani kakao di Aceh masih sangat sulit menerapkan praktik pertanian perkebunan yang baik. Ketidakmampuan para petani mengelola dengan benar hama kakao di Aceh menjadi risiko terbesar industri ini di kemudian hari.

Penyuluhan

Ketua Kelompok Kerja Agrobisnis Forum Bisnis Aceh Salahuddin AL Fata, dalam rekomendasi kelompok kerja tersebut, menyatakan, pemerintah diminta meningkatkan penyuluhan dan pembibitan serta membantu tersedianya alat mekanisasi pertanian, terutama untuk meningkatkan produksi pascapanen. Selama ini penyuluhan dikeluhkan banyak petani. Pascareformasi, penyuluhan kurang banyak dilakukan. Tenaga penyuluh juga dirasakan masih kurang baik untuk perkebunan, tanaman pangan, dan peternakan.

Sumber: kompas.com

Read More

November 19, 2009

Ekspor CPO Ditargetkan Tumbuh 10%

Indonesia menargetkan ekspor minyak sawit mentah (CPO) tumbuh sebesar 10% atau sekitar 17,6 juta ton dibandingkan tahun ini yang diproyeksikan akan mencapai sekitar 16 juta ton.

"Pertumbuhan permintaan CPO masih lebih tinggi dari pasokan," ujar Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Joko Supriyono, di Jakarta, Kamis, di sela pemaparan rencana Indonesia Palm Oil Conference & Outlook 2010 di Bali, pada 2-4 Desember 2009. Kondisi itu, lanjut dia, menyebabkan potensi pasar CPO masih sangat tinggi dan industri CPO memiliki prospek yang baik. Sampai September 2009, ekspor CPO nasional telah mencapai 11,47 juta ton.

Ia mengatakan dengan asumsi, ekspor CPO nasional sebesar 1,2 juta sampai 1,3 juta ton per bulan, maka sampai akhir tahun ekspor CPO akan mendekati angka 16 juta ton. "Pada tahun lalu ekspor CPO Indonesia mencapai 14,7 juta ton. Sampai September 2009 ekspor CPO telah tumbuh sekitar 16%," ujarnya. Ia memperkirakan dalam hitungan konvensional ekspor CPO masih tumbuh sekitar 10% tahun 2010.

Sedangkan produksi, lanjut Joko, juga mengalami pertumbuhan. Tahun 2008 produksi CPO nasional mencapai 19,2 juta ton dan pada tahun ini diperkirakan produksi bisa menembus angka 21 juta ton.

"Tahun depan produksi CPO nasional pasti di atas 20 juta ton, karena tahun ini saya diproyeksikan produksi akan menembus angka 21 juta ton," kata Joko.

Ia mengakui bisnis CPO mengalami tantangan yang sangat berat, terkait industri tersebut masih mengandalkan pasar ekspor yang banyak hambatannya, terutama di Uni Eropa yang menerapkan berbagai standar lingkungan. "Padahal Indonesia telah memiliki peraturan yang menjamin pengembangan perkebunan CPO secara lestari (sustainable). Pengusaha dan pemerintah harus lebih berani dan percaya diri bahwa kebijakan dan sistem yang diterapkan di Indonesia sudah menerapkan konsep pengembangan perkebunan CPO secara lestari, sehingga kita tidak dikendalikan standard asing," ujar Joko.

Dikatakannya, sampai saat ini masih banyak kampanye negatif terhadap CPO yang dilakukan secara berkesinambungan dan sistematis. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah menegakkan aturan terkait pembangunan perkebunan CPO secara lestari dan pengusaha di dalam negeri juga memiliki komitmen menjalankannya.

IPOC

Terkait dengan upaya memberi pengertian pada dunia mengenai industri CPO nasional, GAPKI menjadikan pembangunan industri sawit secara berkelanjutan dan lestari sebagai tema utama pada Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) & Outlook 2010 yang akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, pada 2-4 Desember 2009.

Ketua penyelenggara Mona Surya mengatakan pada konferensi internasional ke-5 yang diselenggarakan GAPKI itu, pihaknya mengangkat tema Sustainable Palm Oil Developmen:Challange and Opportunities.

Menurut dia, kampanye pembangunan industri sawit lestari itu sangat penting di tengah semakin gencarnya isu lingkungan terhadap industri CPO nasional.

Konferensi tersebut akan dibuka oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan sejumlah menteri yaitu Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Perdagangan Mari E Pangestu juga akan hadir sebagai pembicara yang memaparkan kebijakan Indonesia dalam pengembangan industri CPO.

Sumber:http://www.investorindonesia.com/

Read More

November 17, 2009

Direktur Eksekutif Kadin Sumut : Infrastruktur Memprihatinkan Ancam Investasi

Infrastruktur di Sumut dinilai semakin memprihatinkan dan dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan investor lokal dan asing untuk menanamkan modal mereka di daerah itu. "Infrastruktur yang jelek bahkan bisa membuat investor lama hengkang," kata Direktur Eksekutif Kadin Sumut, Hendra Utama di Medan, Senin (16/10). Apalagi, kata dia, selain infrastruktur yang jelek, keamanan dan kepastian hukum di Sumut juga masih belum maksimal, sehingga semakin merugikan pengusaha.

Pengusaha kelapa sawit, misalnya, sering menderita kerugian akibat pencurian buah sawit, baik dilakukan di kebun atau di jalan, sementara kasusnya sering tidak terungkap karena diduga "di-backing" oknum.

Menurut Hendra, infrastruktur yang semakin memprihatinkan itu antara lain ditandai bertambah seringnya "byar pet" listrik, semakin banyaknya ruas jalan yang rusak, panjang jalan tol yang terbatas, termasuk fasilitas dan pelayanan di pelabuhan yang juga masih belum maksimal.

"Kondisi itu membuat biaya tinggi sekaligus membuat daya saing produk khususnya produk ekspor semakin rendah," katanya.

Daya saing yang rendah juga akan mengancam perolehan devisa dan itu sangat membahayakan pemerintahan Sumut maupun Indonesia, ujarnya. Ia berpendapat, tidak ada alasan bagi Pemprov Sumut untuk tidak memperbaiki infrastruktur, termasuk mempermudah perizinan serta meningkatkan keamanan dan kepastian hukum, karena pemerintah provinsi lain sudah membuktikannya

Di Sumatera Barat dan Riau, misalnya, jalan provinsi, jalan nasional dan bahkan jalan kota/kabupaten begitu bagus dan pemerintahnya juga memberikan berbagai kemudahan bagi calon investor.

"Tak heran akhirnya banyak investor yang lebih tertarik berinvestasi ke daerah itu.

Bahkan tidak jarang investor menutup usahanya di Medan dan memindahkannya ke daerah lain," katanya.

Pemerintah Provinsi Sumut, kata Hendra harus benar-benar memanfaatkan membaiknya permintaan impor dan iklim bisnis di tahun 2010 usai krisis global yang dimulai akhir 2008.

Kadin sendiri dan pengusaha secara pribadi, kata dia, mendukung dan siap membantu langkah Kapolda Sumut yang mengajak pengusaha bekerja sama memberantas premanisme yang dilakukan secara terang-terangan atau terselubung yang selama ini menggangu kinerja pengusaha termasuk mengancam investasi.

Sumber: analisadaily.com

Read More

November 07, 2009

JE Habibie: Rotterdam Jadi Pintu Gerbang Ekspor Sumut ke Dataran Eropa

Pihak Kedutaan Besar RI di Belanda yakin optimalisasi pasar ekspor komoditas asal Sumatera Utara ke dataran Eropa bisa dipacu lebih besar.
Optimisme tersebut muncul setelah upaya menjalin kerja sama misi dagang antara Indonesia dengan Kota Rotterdam, Belanda sudah rampung khususnya dalam ekspor tembakau, kakao, dan CPO (crude palm oil).
“Kota Rotterdam jadi target kita sebagai pintu gerbang ekspor tembakau, kakao, dan CPO asal Sumut ke dataran Eropa. Karena upaya ke arah itu akan kita ditempuh melalui pagelaran pameran yang mengusung tentang keunggulan dan keuntungan komoditas asal Sumut pada April mendatang di kota tersebut,” ucap Dubes RI untuk Belanda, JE Habibie dalam kunjungannya ke Gubernuran Medan, Jumat (6/11).
Menurut JE Habibie, kerja sama misi dagang ekspor Sumut ke Belanda dan dataran Eropa lainnya, sebenarnya punya prospek cukup cerah. Namun karena kampanye hitam oleh sejumlah pihak, menjadikan minat orang Eropa terhadap komoditas ekspor Sumut anjlok.
“Karenanya pada pameran nanti, kita akan menjelaskan langsung seperti apa dan bagaimana keunggulan komoditas asal Sumut itu, termasuk untuk mengantisipasi kampanye hitam komoditas Sumut yang dikaitkan dengan isu lingkungan hidup, demokrasi, dan HAM,” jelasnya.
Tak hanya itu, kata JE Habibie, juga akan berupa memanfaatkan hubungan emosional 1,7 juta warga Belanda terhadap Indonesia, khususnya Sumut. Sebab, dari statistik yang ada, sekitar 1,7 juta warga Belanda punya pertalian darah dengan warga di Sumut.
“Saya pernah berdialog dengan salah seorang warga Belanda yang mengaku masih punya nenek moyang di Kota Binjai, Sumut. Dan saya kira, hal-hal seperti ini masih banyak ditemukan pada warga Belanda lainnya. Karenannya, kita akan memanfaatkan hubungan emosional ini untuk mendongkrak neraca ekspor Sumut,” bebernya.
Di kesempatan terpisah, Dubes RI untuk Argentina, Sunten L Manurung yang bertemu Gubsu juga menegaskan, pihaknya juga akan menggenjot ekspor komoditas asal Sumut ke wilayah tersebut. Namun dia hanya akan memfokuskan neraca ekspor pada komoditas kakao dan CPO saja. Karena devisa dari dua produk ini bisa mencapai lebih dari 100 juta dolar AS bila mengirimnya secara langsung.

Terobos Langsung

“Selama ini, ekspor dua komoditas tersebut hanya dalam bentuk bahan baku. Sehingga saat masuk ke Paraguay, dan kemudian menyebar ke daerah sekitarnya, seperti Peru dan Argentina, komoditas tersebut sudah diklaim milik negara tersebut. Makanya, ke depan kita terobos langsung pasar di negara Amerika Latin itu dengan mengirim langsung kakao dan CPO, termasuk bahan baku untuk elektronik dan spare part,” rincinya.
Menanggapi dua peluang ini, Gubsu pada prinsipnya sangat mendukung. Karenanya ia langsung memerintahkan institusi terkait bidang ekspor, untuk mempelajari masalah, dan solusi yang diperlukan.
“Selama ini, komoditas asal Sumut sudah cukup dikenal dunia luar. Namun sayangnya, kita kurang memahami mata rantai untuk melakukan ekspor sampai ke negara tujuan. Makanya, dengan kedatangan sejumlah dubes ini, menjadikan semuanya bisa terang, sehingga potensi bagi Sumut untuk meraih devisa lebih besar terbuka lebih lebar,” katanya.

Sumber:http://www.analisadaily.com

Read More

November 02, 2009

Petani Sawit Andalkan Tanaman Tua

Ternyata, petani kelapa sawit, terutama yang tergolong dengan perkebunan rakyat, tak mampu memperoleh hasil maksimal. Pasalnya, tanaman yang dimiliki para petani, umumnya berusia lanjut, sehingga produksinya semakin menurun. Hal itu dibenarkan Sekjen DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Asmar Arsjad, dalam suatu kesempatan di Medan. Dijelaskannya, tak kurang dari 1,5 juta hektar dari 2,7 juta hektar lahan kelapa sawit rakyat, memiliki produktivitas rendah. Guna memaksimalkan produksi buahnya, dibutuhkan replanting (penanaman kembali -red).

"Saat ini, produktivitasnya berkisar di bawah 10 ton tandan buah segar per hektar. Selain akibat usia tanaman yang sudah tua, bisa juga petani tidak menggunakan bibit unggul," ujarnya.
Kondisi itu menyebabkan petani sawit bakal merugi, terutama saat harga TBS anjlok di pasaran akibat tingginya biaya produksi.

Padahal, dana replanting bisa memanfaatkan dana pungutan ekspor CPO yang selama ini dikutip pemerintah. Apalagi, dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 26/2007 tentang Izin Usaha Perkebunan, tersirat akan tekad pemerintah yang mencoba memfokuskan pengembangan kelapa sawit berbasis tanaman rakyat. Hal itu bisa terlihat dari salah satu poin yang mewajibkan pengusaha perkebunan kelapa sawit membuka areal untuk kebun rakyat seluas 20% dari lahan mereka.

"Jadi, peremajaan tanaman kelapa sawit harus mendapat prioritas seperti rencana pemerintah dalam Permentan nomor 26 tahun 2007 tentang Izin Usaha Perkebunan," tandasnya.

Sumber:http://www.harian-global.com/

Read More

November 01, 2009

TBS Menurun

Pihak Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut kesulitan memenuhi kontrak kerja sama titip buah sawit ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 3 akibat produksi mengalami penurunan.

"Harusnya, sedikitnya 600 ton TBS yang harus dipasok ke tiga PKS milik PTPN3, tapi nyatanya hingga bulan ini masih rata-rata 300 ton," papar Ketua Apkasindo Sumut, Ahmad Rinto Gunari, di Medan, beberapa waktu lalu.

Ia menyatakan, musim trek yang berkepanjangan disusul hujan berkepanjangan, membuat pihak Apkasindo kesulitan mengumpulkan TBS dari petani anggota asosiasi itu. "Pedagang pengumpul juga merasakan hal sama sehingga pabrikan mulai kekurangan bahan baku di tengah harga jual yang sedang naik," ujarnya.

Rinto mengakui, pihak Apkasindo telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan perkebunan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan adanya kepastian penjualan, maka harga petani bisa sesuai harga pasar, bukan seperti selama ini yang sering dipermainkan beberapa pihak. Sebelum dengan PTPN 3, pihak Apkasindo sudah menjalin kerja sama titip olah dengan PTPN 4 dan terbukti sangat memberi keuntungan kepada petani.

Sumber:http://www.harian-global.com/

Read More

October 20, 2009

Sumut Siap Hadapi NSW

Pengusaha Sumatera Utara (Sumut) siap menghadapi sistem administrasi satu pintu (national single window, NSW) yang mulai dilaksanakan secara mandatori pada 21 Oktober 2009. “Meski sistem portal belum berlaku pada kawasan berikat, kita sudah siap dari dulu menghadapi NSW. Proses mengurus administrasi lebih cepat karena secara online,” tegas B Simanjuntak, eksportir produk hasil perikanan dan kelautan dari perusahaan Tropical Medan Canning, kepada Global, di sela sosialisasi teknis NSW di Medan, Senin (19/10). Ia mengakui, kalangan eksportir sejak lama telah menerapkan kebijakan NSW, salah satunya dalam proses penerbitan surat keterangan asal (SKA) lewat sistem otomasi.

Kasubdis Bina Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut Muzanni Lubis membenarkan kesiapan pelaku usaha, baik kalangan eksportir dan importir menyangkut diterapkannya kebijakan NSW pada Rabu (21/10). "Masih mandatori, karena efektifnya ditargetkan Desember nanti. Tapi, sepertinya pengusaha di Sumut siap. Hanya saja, ada beberapa teknis dokumen yang masih perlu dipahami, semisal soal 'sign.' Apakah tintanya harus basah atau tidak,” tuturnya.

Ketua Pelaksana Teknis Tim NSW RI, Susiwijono, menilai, secara keseluruhan kesiapan pemberlakukan sistem ini sudah matang. Kendati demikian, ia mengingatkan, kultur budaya pengusaha yang terbiasa secara manual harus berubah ke online.

“Ini sangat penting suatu bentuk penyempurnaan sistem. Perkembangan teknologi tak bisa terhindarkan jika ingin lebih kompetitif di pasar,” tegasnya.

Susiwijono mengemukakan, penerapan NSW bagi eksportir dan importir mampu memangkas waktu dan biaya, dua elemen penting dalam kegiatan arus barang keluar masuk yang bisa menimbulkan beban biaya. Meski belum bisa menghitung besaran cost terefesiensi melalui sistem ini, namun ia menyakini, pengusaha sudah mulai merasakannya.

“Bagi eksportir dan importir, time dan cost adalah dua hal penting. Dari sisi waktu layanan sangat signifikan. Dulu, izin importir harus manual sekarang online dalam hitungan menit. Cost, pararel dengan waktu, sebut saja biaya penumpukan barang di pelabuhan, jadi bisa dikurangi,” paparnya.

Selain meningkatkan efisiensi pelayanan, efektivitas pengawasan, dan optimalisasi penerimaan negara, Susiwijono menyatakan, sistem NSW juga dimaksudkan dalam akurasi data terkait kegiatan ekspor impor di Indonesia. Sekadar informasi, sistem NSW ditargetkan berjalan pada awal tahun, namun mundur hingga Desember 2009.

Source:http://www.harian-global.com/

Read More

October 19, 2009

Waduh, Ekspor Kopi Arabika ke AS Belum Pulih

Pascakrisis keuangan global, ekspor kopi jenis Arabika dari Sumatera Utara ke Amerika Serikat masih belum pulih. Namun eksportir cukup tertolong dengan membaiknya harga seiring dengan rendahnya pasokan kopi Arabika ke pasar dunia.

"Amerika Serikat (AS) yang terkena dampak krisis keuangan global terparah merupakan pasar tradisional dari ekspor kopi Arabika asal Sumut. Ekspor ke AS masih belum 100 persen pulih sejak krisis. Padahal AS merupakan pasar tradisional ekspor kopi Arabika asal Sumut. Itulah mengapa kami terus mencari pangsa pasar baru untuk ekspor kopi Arabika di luar AS," ujar Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut Suyanto Husein di Medan, Minggu (18/10).

Menurut Suyanto, AEKI masih belum bisa mencatat berapa total penurunan volume ekspor kopi Arabika Sumut ke AS pada tahun ini. Tetapi untuk tahun 2009 ini, diprediksi penurunan volume ekspor kopi Sumut secara total berkisar delapan hingga 15 persen dibanding tahun lalu. Tahun 2008, total volume ekspor kopi Sumut mencapai 54.576 ton dengan 47.348 ton di antaranya merupakan jenis Arabika. Sisanya berupa kopi Robusta dan kopi instan.

Dia mengungkapkan, eksportir kopi Sumut agak tertolong dengan membaiknya harga kopi Arabika di pasar internasional. Harga kopi Arabika untuk pengapalan bulan Desember, sudah mencapai 3,5 Dolar AS perkilogram. Sementara yang sudah dikapalkan sejak Januari harganya juga lumayan stabil, berkisar 3,2 dollar AS hingga 3,3 dollar AS perkilogram . "Kondisi ini terjadi karena tidak ada banyak pasokan," katanya.

AEKI Sumut lanjut Suyanto terus berusaha mencari pasar kopi Arabika di luar AS, yakni ke Jepang dan Eropa. Dia mengakui, memang perkembangan penetrasi pasar terhadap kopi Arabika di luar AS dan negara-negara maju agak lambat, mengingat harganya yang relatif lebih mahal dibanding kopi Robusta.

"Memang masih butuh edukasi lebih terutama ke pasar-pasar baru seperti Rusia. Pasar di sana sudah berusaha beralih ke Arabika. Tetapi ini pun masih terbatas ke negara-negara maju dengan tingkat ekonomi yang relatif mapan," katanya.

Di sisi lain, potensi produksi kopi Arabika di Sumut terus berkembang. Jika dulu kopi speciality (jenis khusus) Arabika hanya dikenal di daerah Mandailing dengan sebutan kopi Mandheling di pasar internasional, saat ini sebaran kopi jenis khusus Arabika Mandailing ini telah menyebar ke berbagai daerah di Sumut. "Apa yang dikenal dengan kopi lintong itu ya sebenarnya kopi mandailing. Termasuk kopi Siborongborong yang sekarang dipasok menjadi kopi speciality di gerai kopi Starbucks," ujar Suyanto.

Bahkan, jenis kopi Arabika yang diekspor dari Sumut juga datang dari dataran tinggi Gayo di Aceh. "Pasokan dari Aceh cukup besar," ujarnya.

Dia menuturkan, kondisi pasar kopi internasional tahun depan tak banyak berubah. Namun, jumlah pasokan kopi Arabika ke pasar dunia masih tetap diperkirakan terbatas mengingat siklus produksinya terpengaruh gejala El Nino. "Gejala El Nino yang terjadi tahun ini pasti mempengaruhi produksi kopi tahun depan yang hampir pasti turun. Kalausupply pasar masih terbatas, harga diperkirakan tetap tinggi," katanya.

Sumber:http://bisniskeuangan.kompas.com/

Read More

October 18, 2009

Permintaan CPO Diprediksi Naik 10 Persen

Para eksportir memprediksi, permintaan CPO bisa meningkat 10 persen. Selain permintaan meningkat, harga CPO juga bisa bergerak naik. Hal ini seiring datangnya musim dingin yang akan melanda negara-negara di dunia terutama Eropa diprediksi akan mendongkrak ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO) dari Indonesia.

“Kami cuma bisa berharap musim dingin nanti, harga CPO bisa bagus dan permintaan juga bisa meningkat,” kata Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapkindo) Sumut, Laksamana Adiyaksa, kepada wartawan koran ini kemarin Jumat (9/10) lalu di Medan. Menurut Laksamana, selama krisis keuangan berlangsung dan juga diterapkannya Bea Keluar (BK) pada April lalu, permintaan ekspor CPO dan harganya melemah.

Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) periode Agustus 2009, ekspor CPO asal Sumut turun sebesar 39,59 persen jika dibanding pada periode sama setahun lalu. Volume ekspor pada Agustus 2009 tercatat 355,450,744 kg dan nilainya 218,399,385 dolar. Pada periode sama setahun lalu volume ekspor CPO beserta fraksinya berada di level 373,710,755 kg dan nilainya 361,534,136 dolar.

Komoditas ini diekspor ke beberapa negara tujuan seperti India, Mesir, China, Malaysia, Belanda, dan Singapura pada Agustus 2009. Negara tujuan ekspor inipun mengalami penurunan. Misalnya saja, pada Agustus 2009 tidak ada terjadi permintaan dari negara Pakistan, Ukraina dan Rusia.

Di tempat terpisah Kepala Seksi Hasil Pertanian dan Pertambangan Subdis Perdagangan Luar Negeri (PLN), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia mengatakan, BK yang diterapkan pemerintah bukan untuk membuat ekspor CPO dari Sumut menjadi anjlok. Tapi untuk menjaga stabilitas harga dan juga pasokan di dalam negeri. “BK hanya diterapkan jika harga CPO sudah di atas ketentuan. Sejak Agustus hingga bulan ini, tidak ada BK karena harga CPO berdasarkan Rotterdam di bawah 700 dolar per ton,” katanya.

Sementara pengamat perdagangan luar negeri Suhariel Latif mengatakan, sebelumnya ada isu harga CPO akan terdongkrak naik akibat adanya isu pasokan kedelai di beberapa negara produsen menipis. Tapi menurutnya, isu itu ternyata tidak bisa membuat harga CPO turut bergerak naik. Dia memprediksi pada Desember nanti, permintaan CPO baru akan bergerak naik. Soalnya di beberapa negara tujuan ekspor Sumut akan terjadi musim dingin.

Pada saat musim dingin, sambungnya, permintaan CPO diperkirakan akan naik hingga 10 persen. Selain permintaan, harga juga diprediksi akan bergerak naik. “Diprediksi harga di atas 700 dolar per metrik ton.

Sumber:http://www.hariansumutpos.com/

Read More

October 15, 2009

Eksportir Kopi Terancam Pecah

Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 41 Tahun 2009 tentang Pengaturan Penetapan Pelaku Ekspor Kopi yang mulai berlaku efektif sejak 15 Oktober 2009 dikhawatirkan bakal membuat “jurang” antara eksportir kopi besar dengan pemain skala kecil. Pasalnya,  dalam aturan itu disebutkan ketentuan volume pengiriman eksportir kopi sementara (EKS) minimal 200 ton per tahun, sebelum menjadi eksportir kopi tetap (EKT). “Ini akan membuat 'gap' antara para eksportir karena jaminan pengiriman minimal 200 ton per tahun itu,” ucap Dharma, eksportir kopi asal Sumut, di Medan, Rabu (14/10).

Pemilik CV Sidikalang yang bergerak di bidang ekspor kopi itu memperkirakan kebijakan pemerintah melalui Permendag No 41/2009 menjadi dilema baru bagi pemain kopi nasional, mengingat musim pengiriman kopi tak selamanya ramai karena tergantung beberapa faktor. “Memang untuk saat ini kita mampu mengirim di atas 200 ton, namun ada masanya ketika harga tidak cocok, kita tahan dulu penjualan daripada merugi,” tutur anggota Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut ini.

Diakuinya, CV Sidikalang maksimal mengekspor 1.500 ton biji kopi dan minimal 800 ton setahun. Kepala Seksi Hasil Pertanian dan Pertambangan Dinas Perindagsu, Fitra Kurnia, membenarkan adanya peraturan baru yang berlaku efektif tanggal 15 Oktober ini. Kebijakan tersebut diambil, mengingat selama ini banyak eksportir saat melakukan pengapalan hanya mampu mencapai 16 ton.

“Jadi sekarang ada aturan di mana pengapalan minimal 200 ton per tahun atau sebulan sekitar 9 ton,” tukas Fitra lantas menambahkan, dengan terealisasinya kebijakan baru ini, EKS akan mematuhi aturan Permendag No 41 Tahun 2009 sebelum diajukan menjadi EKT.

Saat ini, lanjut Fitra, Sumut memiliki 130 eksportir terdaftar, namun yang aktif hanya 48 perusahaan. Adanya Permendag ini juga diharapkan mengatur kembali para eksportir yang selama ini tidak kontiniu melakukan pengiriman. Mengenai tren pergerakan harga kopi saat ini, ia menyatakan tetap stabil di kisaran Rp 29 ribu per kg untuk jenis biji kopi Arabika. Sedangkan harga ekspor mencapai US$1,32 per kg.

Sumber:http://www.harian-global.com/

Read More

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Blogger Templates