Pages

Showing posts with label exporter. Show all posts
Showing posts with label exporter. Show all posts

November 26, 2010

Ekspor Kakao Sumut Melonjak 937,97%

Setelah pada September 2010 aktivitas ekspor kakao Sumatera Utara (Sumut) melalui terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT) melorot hingga titik terendah yakni 927 ton, di bulan Oktober aktivitas ekspornya melonjak sangat fantastis.

Selain bangkit dari keterpurukan, kenaikan ekspornya juga melambung tinggi hingga mencapai 937,97%. Bukan itu saja, bahkan sejak tahun 2007, aktivitas ekspor di bulan Oktober 2010 merupakan rekor tertinggi. Humas Pelindo I BICT H Suratman akhir pekan lalu kepada MedanBisnis mengatakan, September lalu ekspor kakao Sumut yang dikapalkan menggunakan peti kemas lewat BICT mencapai titik terendah yakni hanya sebanyak 927 ton. Namun di bulan Oktober 2010 ujar juru bicara pengelola terminal peti kemas terkemuka di luar Pulau Jawa itu, aktivitas ekspor kakao Sumut lewat BICT melonjak drastis yakni mencapai 9.622 ton atau naik sekitar 937,97%.

Bahkan menurut Suratman, sejak dekade 2007 jumlah ekspor kakao Sumut selama Oktober merupakan rekor tertinggi. Sebab sebelumnya rekor tertinggi ekspor kakao Sumut melalui BICT terjadi pada bulan Maret 2010 yakni sebanyak 7.066 ton. Dijelaskannya,selain itu secara kumulatif aktivitas ekspor kakao Sumut melalui BICT juga mengalami peningkatan yang signifikan. Hingga September 2010, papar Suratman, aktivitas ekspor kakao Sumut sebanyak 37.111 ton.

Sementara periode serupa 2009 jumlahnya 31.253 ton atau naik sekitar 18,74%. Sekadar diketahui, terhitung 1 April 2010 pemerintah mengenakan bea keluar (BK) terhadap komoditas kakao. Kebijakan ini untuk mendorong industri pengolahan biji kakao agar melakukan eksportasi menjadi produk jadi atau setengah jadi.
Sumber:medanbisnisdaily.com

Read More

November 24, 2010

Penyakit Susutkan Harga Jual Kopi

Cuaca yang tidak menentu membikin penyakit tanaman tumbuh dengan begitu suburnya di sejumlah sentra perkebunan kopi di Sumatera, di antaranya di Naggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara.

"Awalnya buah kopi itu banyak., namun kena penyakit buahnya menguning kemudian rontok," kata Yamanah AC, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan (Kemdag) di Jakarta, Jumat (19/11).

Penyakit ini mengakibatkan produktivitas tanaman kopi anjlok. Selain merontokan buah yang siap panen, kopi yang sudah dipanen juga rusak. Jadi, dengan kualitas yang menyusut seperti ini, harga jual pun ikut melorot.

Yamanah memperkirakan, penyakit kopi itu muncul akibat cuaca yang basah sehingga penyebaran penyakit kopi begitu cepatnya. Ia menyayangkan adanya penyebaran penyakit saat harga kopi sedang manis-manisnya seperti saat ini. "Harga bagus tapi dari volume kita tidak bisa banyak ekspor," ujarnya menjelaskan.

Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sumut Fitra Kurnia mengatakan untuk jenis kopi arabika, nilai ekspor Sumut per September 2009 sebanyak 4,5 ribu ton dengan nilai 144,3 juta dolar AS. Kenaikan 12, 78 persen pada bulan Oktober 2010 sebesar 51,5 ribu ton dengan nilai 162,7 juta dolar AS.

Kopi jenis robusta sebanyak 7,9 ribu ton tahun 2010 pada Januari - Oktober 2010 senilai 11,3 juta dolar AS.

Menurut Fitra, saat ini para eksportir kopi Sumut mengalami guncangan, diakibatkan cuaca yang ekstrim. Hal ini membuat para eksportir kopi harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi permintaan dari negara asing. Sulitnya mendapatkan biji kopi yang bagus akibat produksi kopi menurun.

Para eksportir kopi Sumut terancam rugi dan mengalami kebangkrutan, sebab biaya pengiriman lebih besar dari pada pendapatan dari hasil penjualan kopi tersebut. "Jumlah minimal yang harus dikirim adalah 19 ton untuk sekali pengiriman" kata Fitra
Sumber:tribun-medan.com
Read More

November 17, 2010

Ekspor Kelapa Parut Sumut Turun 25,19%

Kelapa parut merupakan salah satu komoditas ekspor yang selalu eksis memperkuat barisan ekspor Sumatera Utara (Sumut) yang dikapalkan melalui terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT). Namun tahun ini aktivitas ekspor komoditas kelapa parut Sumut melalui dermaga internasional BICT boleh dikatakan memprihatinkan. Pasalnya, hingga September 2010 ekspor kelapa parut anjlok hingga 25,19%.
Asisten Manajer Hukum dan Humas Pelindo I BICT Suratman SSos mengatakan, hingga September 2010 jumlah ekspor komoditas kelapa parut Sumut melalui BICT tercatat hanya 15.306 ton. Sementara periode serupa 2009 jumlahnya mencapai 20.462 ton atau turun sekitar 25,19%. "Tahun ini jumlahnya diperkirakan bakal mengalami penurunan sebab hingga September sudah turun sekitar 25,19%," ujar Suratman.

Sementara untuk kemiri, salah satu komoditas hasil hutan di Sumut yang juga selalu tampil dalam barisan ekspor Sumut melalui BICT, tahun ini kondisinya juga kurang menggembirakan. Bahkan selama September ekspor kemiri Sumut jalan di tempat.

Menurut Suratman, sejak Januari hingga triwulan III-2010, aktivitas ekspor kemiri Sumut melalui terminal peti kemas BICT berfluktuasi dengan kondisi kurang menggembirakan. Bahkan di bulan Mei kemiri menghilang dari barisan ekspor Sumut.

Selama Januari, ungkap Suratman, jumlah ekspor kemiri Sumut tercatat 40 ton, namun di Febuari anjlok menjadi 29 ton. Bulan ketiga ekspor kemiri kembali naik menjadi 40 ton dan April naik lagi menjadi 43 ton. Memasuki Mei komoditas ini menghilang dari barisan ekspor Sumut melalui BICT, namun Juni tampil lagi dengan jumlah 37 ton dan Juli turun tipis menjadi 36 ton. Kemudian Agustus turun menjadi 32 ton dan September jalan di tempat yakni tetap 32 ton.

Sumber:medanbisnisdaily.com
Read More

November 12, 2010

Black Campaign Pengaruhi Ekspor Pinang Sumut

Aksi black campaign yang dilakukan India terhadap pinang Sumatera Utara (Sumut) untuk menjatuhkan aktivitas ekspornya tampaknya mulai berdampak negatif. Buktinya, hingga September 2010 jumlah ekspor pinang lewat terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT) turun sekitar 19%.
Padahal sebelum black campaign itu dilakukan, aktivitas ekspor pinang Sumut yang dikapalkan melalui terminal peti kemas BICT terus naik kendati kenaikannya relatif kecil.
Asisten Manajer Hukum dan Humas Pelindo I BICT Suratman kepada MedanBisnis, Jumat kemarin mengatakan, sebelum India memberlakukan bea masuk (BM) sebesar 10%-15% untuk pinang Sumut, aktivitas ekspor pinang Sumut terus meningkat.
Menurut Suratman, selama Januari-September 2010 jumlah ekspor pinang Sumut yang dikapalkan melalui dermaga internasional BICT sebanyak 85.009 ton. Sementara periode serupa 2009 sebanyak 104.845 ton atau turun sekitar 19%.
Padahal, kata Suratman, sebelumnya ekspor pinang Sumut melalui BICT terus naik meski kenaikannya relatif kecil. Selama Januari-September 2007, ujar Suratman, ekspor pinang Sumut tercatat 101.547 ton atau naik sekitar 2,75% dibanding periode serupa 2008 yang jumlahnya 104.342 ton. Kemudian Januari - September 2009 kembali naik tipis menjadi 104.845 ton. “Meski kenaikannya kecil, tapi yang pasti selama periode itu ekspornya tetap naik,” imbuh Suratman.
Sebelumnya, Kepala Seksi Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Subdis Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia, mengatakan, setelah mengisukan pinang Sumut tidak baik untuk kesehatan, India ternyata mengenakan BM sangat tinggi untuk komoditas pinang.
Fitra mengemukakan, sebelum adanya peningkatan BM, pemerintah India mengisukan jika menggunakan pinang dari Indonesia termasuk Sumut akan mengakibatkan kanker gusi. Tapi isu itu pun tidak didengar oleh buyer dan masyarakat India sendiri. Mereka malah tetap memilih menggunakan pinang dari Indonesia karena kualitasnya lebih bagus.
Fitra mengatakan, oleh karena itu ekspor pinang yang tadinya ke India pun akhirnya dialihkan ke Pakistan. “Selain India dan Pakistan, permintaan biji pinang Sumut datang dari China, Bangladesh dan Thailand,” ujar Fitra.
Sumber:medanbisnisdaily.com
Read More

November 09, 2010

Eksportir Kopi Masih Wait and See

Meski terancam gulung tikar, eksportir kopi ternyata masih wait and see dalam meneruskan bisnisnya. Sebab, semakin tingginya harga kopi dunia dan di tingkat petani, eksportir belum berani membuat kontrak baru untuk tahun 2011. Eksportir kopi Sumut, Suryo Pranoto, mengakui sulitnya perdagangan kopi itu meski permintaan justru bertambah banyak termasuk dari China. Awalnya pengusaha memperkirakan harga arabika lokal sudah mulai turun di awal Oktober karena musim panen, nyatanya musim itu belum masuk juga sehingga pasokan tetap sulit dan membuat harga bertahan mahal.
“Kita masih lihat kondisi dululah kalau mau buat perjanjian kontrak baru. Ini saja kami sudah harus menutupi biaya tambahan karena harga di tingkat terminal juga sudah naik,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (12/11).
Menurutnya, permintaan buyer terhadap kopi juga belum menampakkan peningkatan karena masih menunggu turunnya harga jual kopi tingkat dunia yang sudah menembus US$209,50 per pound. Jadi, pengusaha masih menunggu untuk melakukan transaksi baru untuk tahun 2011. “Kalau mau buat kontrak baru, kita takut kalau produksi tidak ada. Harga beli kopi di tingkat petani juga sangat tinggi. Jadi benar-benar tidak menguntungkan,” ucapnya.
Kondisi semakin parah karena hampir semua eksportir berebut untuk menyimpan stok karena khawatir harga tinggi lagi sehingga tidak mampu memenuhi kontak. Hal ini perlahan-lahan bisa membuat harga kopi melonjak menjadi Rp 37.000 hingga Rp 38.000 per kg.
Sekretaris Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, Saidul Alam, mengatakan, eksportir hanya pasrah tidak bisa berbuat banyak dengan terus meningkatnya harga jual kopi. “Harga kopi di tingkat petani terus mengalami kenaikan karena penurunan produksi akibat perubahan iklim. Tapi kami pasrah aja dulu meski terancam gulung tikar,” ujarnya.
Dikatakannya, tingginya harga kopi saat ini memang banyak membuat eksportir mengalami kerugian karena harus mengeluarkan biaya tambahan akibat harga di tingkat terminal atau harga maksimal dijual US$ 4,7 per kg atau setara dengan Rp 41.000 per kg.
Saat ini, harga kopi di bursa New York yang menembus US$ 209,50 per pound, sedangkan harga terminal US$ 4,7 per kg atau sekitar Rp 41.000 per kg untuk ready ekspor. Harga lokal yang masih menembus Rp35.000 per kg dan ekspor yang tidak seimbang itu membuat eksportir bukan saja tidak berani membuat kontrak baru, bahkan cenderung memilih tidak mengekspor. “Kalau-pun ada ekspor, itu hanya untuk menutup kontrak dengan mitra kerja di luar negeri,” ucapnya.
Ditambahkan Saidul, kondisi harga dan menurunnya produksi kopi secara langsung mengancam bisnis pihak eksportir karena harga yang dibeli lebih tinggi daripada dijual. Menurutnya, tingginya harga kopi di lokal itu dipicu terlambatnya masa panen kopi arabika itu sehingga terjadi pasokan yang ketat. Kondisi seperti itu yang membuat pengusaha tidak begitu antusias dengan tawaran beberapa eksportir baru dari beberapa negara yang berminta bermitra perdagangan kopi itu dewasa ini. “Bagaimana mau penuhi permintaan, memenuhi kontrak saja sulit karena produksi yang terus menurun,” katanya.
Kasie Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Sub Dinas Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sumut, Fitra Kurnia menambahkan, kondisi seperti ini memang sangat disayangkan mengingat kopi merupakan salah satu komoditas yang diunggulkan di Sumut.
“Jika semakin banyak eksportir tidak mengekspor dikhawatirkan kopi dari Sumut tidak ada lagi, namun kita tidak bisa berbuat banyak karena memang ini tergantung kondisi,” imbuhnya pasrah. 
Sumber:medanbisnisdaily.com
Read More

December 17, 2009

Unilever Hentikan Pembelian Minyak Sawit Sinar Mas

Unilever PLC, Jumat (11/12/2009), menyatakan menghentikan pembelian minyak kelapa sawit dari PT Sinar Mas Agro Resources & Technology.

Keputusan salah satu perusahan good consumer terbesar dunia itu seiring dengan adanya laporan dari LSM lingkungan Greenpeace yang menyebutkan bahwa Sinar Mas telah melakukan penebangan ilegal di hutan Kalimantan Barat untuk membangun perkebunan sawit.

Sementara itu, juru bicara Sinar Mas menyatakan bahwa tuduhan Greenpeace tersebut tidak akurat. Namun, dia tidak berkomentar lebih lanjut. Ia hanya mengatakan, pihak perusahaan sedang menyiapkan respons detail. "Pasar minyak sawit terbagi-bagi, artinya penghentian pesanan dari Unilever PLC tidak akan mengganggu penjualan secara keseluruhan," tambah dia seperti dikutip Dow Jones.

Read More

December 10, 2009

Mulai Januari 2010 ; Pemerintah Luncurkan Layanan NSW untuk Ekspor-Impor

Pemerintah akan meluncurkan National Single Window (NSW) untuk ekspor pada minggu ketiga Januari 2010 di Pelabuhan Tanjung Perak. Untuk impor, NSW dilaksanakan pada 5 pelabuhan dan 1 bandara, yaitu Pelabuhan Batam, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Tanjung Emas, dan Belawan, serta Bandara Soekarno Hatta. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa usai Rapat Koordinasi mengenai pelaksanaan NSW di Kantor Menko Perekonomian Jl. Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (9/12).Menurut Hatta, dengan adanya NSW diharapkan seluruh proses ekspor impor menjadi lebih mudah, cepat, murah.

"Jadi tidak perlu repot, cukup masuk ke portal NSW maka langsung beres. Cepat dan tidak perlu high cost . Diyakini dengan paperless tersebut dipastikan biaya akan turun dan waktu akan cepat," tegas Hatta.

Hatta menjelaskan dengan adanya NSW, diharapkan ekspor Indonesia yang pada tahun ini pertumbuhannya negatif di atas 14,5%, menjadi positif di atas 5% pada 2010. Sedangkan untuk impor bisa naik dari negatif 19% menjadi positif di atas 7% pada 2010.

Menurut Hatta, dengan adanya NSW proses perizinan ekspor impor bisa dipercepat dari 40 hari menjadi 17 hari. Apalagi, tambah Hatta, masalah perizinan yang selama ini ada di 30 kementerian/lembaga telah diserahkan kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). "Bagaimana perizinan yang ada di K/L (Kementerian/Lembaga) sekarang di BKPM, program pelayanan satu atap," jelas Hatta.

Hatta menyatakan NSW sampai 2011 masih dikelola Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan. Ke depannya, Hatta masih mencari lembaga yang akan mengelola NSW tersebut. "Untuk pengelolaan NSW, transisi pengelolaanya Ditjen Bea Cukai. Paling tidak sampai 2011. Setelah itu, kita berpikir bagaimana ini dengan baik, kita lihat apakah ada lembaga independen atau yang lain," jelas Hatta. Pemerintah pusat berjanji akan memberikan insentif kepada pemerintah daerah kabupaten/kota yang telah melakukan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) khususnya dibidang investasi. Meskipun hingga saat ini pemerintah masing menggodoknya ditingkat menteri perekonomian.

"Sudah dibicarakan dengan departemen penanggung jawab tinggal dinaikan ke menko perekonomian untuk kita dorong," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa saat ditemui di kantor BKPM, Jakarta, Rabu (9/12). Sayangnya Hatta tidak menjelaskan insentif apa yang bisa diberikan kepada pemda pelaksana PTSP, mengingat saat ini masih banyak yang belum melaksanakan PTSP khususnya di level kabupaten/kota. "Pemberian instentifnya seperti apa yang akan diberikan, sedang dirumuskan. Kita bicarakan seperti apa insentifnya sedang digodok," jelas Hatta.

Sementara Kepala BKPM Gita Wirjawan mengatakan pihaknya sudah membahas hal tersebut dengan kementerian perekonomian. Ia menyambut baik dengan adanya rencananya tersebut.

Ia menambahkan insentif merupakan langkah pendorong bagi pemda untuk lebih intensif dalam memberikan pelayanan investasi. Pada program 100 hari pemerintah, antaralain mencoba meningkatkan terkait pelayanan memulai usaha dari 60 hari menjadi hanya 40 hari.

Gita juga mengutip mengenai hasil survey ‘doing business 2010’ yang dilakukan oleh World Bank/IFC terhadap 183 negara, dimana Indonesia menempati peringkat 122 atau mengalami perbaikan dari tahun sebelumnya yang hanya 129. Namun peringkat Indonesia jauh tertinggal dengan Singapura yang menempati posisi 1, Thailand peringkat 12, Malaysia peringkat 23 dan Vietnam peringkat 93.

"Modal bersifat demokratis dengan kata lain penanaman modal akan mengalir ke negara-negara maupun daerah yang memiliki prospek keuntungan, banyaknya kemudahan investasi dan pelayanan yang lebih baik," kata Gita.

Read More

December 08, 2009

Aceh Siapkan Ekspor Perdana Kakao

Para petani dan perdagangan perkebunan kakao merencanakan akan melakukan ekspor perdana kakao ke Malaysia pada 9 Desember 2009. Ekspor perdana ini akan dilakukan melalui Pelabuhan Krueng Geukueh, Kabupaten Aceh Utara.

Hamzah Abdullah, Ketua Forum Kakao Aceh, yang dihubungi dari Banda Aceh awal pekan ini, mengatakan, ekspor perdana ini masih dalam tahap coba-coba, mengingat produksi kakao yang masih belum stabil. ”Kakao yang rencananya diekspor masih dalam bentuk biji mentah. Belum diolah di sini,” katanya.

Hamzah mengatakan, ekspor perdana ini baru bisa dilakukan setelah pemerintah memutuskan membuka kembali Pelabuhan Krueng Geukueh sebagai pelabuhan ekspor untuk wilayah Asia Tenggara dan sekitarnya. Meskipun belum banyak kapal yang singgah di pelabuhan ini, para pengusaha berharap adanya konsistensi perusahaan pelayaran untuk tetap singgah dan mengangkut barang-barang ekspor dari wilayah pantai timur Aceh.

Sebuah perusahaan Malaysia, MCL Logistics (M) SDN BHD, akan membuka pelayaran langsung ke Krueng Geukueh yang akan dimulai pada 10 Desember 2009. Kapal khusus peti kemas yang berbobot mati 1.588 ton tersebut dijadwalkan akan melayani pelayaran Penang-Krueng Geukueh empat kali dalam sebulan.

Ongkos

Ekspor dari Krueng Geukueh masih baru sehingga komoditas yang akan dibawa belum maksimal. Akibatnya, perusahaan kapal akan menetapkan ongkos lebih tinggi. Kapasitas kapal MCL Logistics mencapai 140 peti kemas (ukuran 20 kaki), tetapi karena masih perdana hanya ada 40 unit sehingga agar tidak rugi, pihak kapal akan menetapkan biaya yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, dia mengatakan, ekspor kakao perdana tersebut masih dalam bentuk mentah karena para petani belum memiliki pengetahuan yang memadai mengenai nilai tambah produk kakao pascapanen. Dengan kadar air sekitar empat persen, dirinya berharap kakao Aceh bisa diterima dan dikenal di pasaran internasional.

Dalam pertemuan Forum Bisnis Aceh II yang digagas International Finance Corporation, beberapa permasalahan utama dalam produksi kakao di antaranya masih sangat rendahnya pengetahuan petani tentang teknik manajemen hama dan penyakit.

Di samping itu, para petani kakao di Aceh masih sangat sulit menerapkan praktik pertanian perkebunan yang baik. Ketidakmampuan para petani mengelola dengan benar hama kakao di Aceh menjadi risiko terbesar industri ini di kemudian hari.

Penyuluhan

Ketua Kelompok Kerja Agrobisnis Forum Bisnis Aceh Salahuddin AL Fata, dalam rekomendasi kelompok kerja tersebut, menyatakan, pemerintah diminta meningkatkan penyuluhan dan pembibitan serta membantu tersedianya alat mekanisasi pertanian, terutama untuk meningkatkan produksi pascapanen. Selama ini penyuluhan dikeluhkan banyak petani. Pascareformasi, penyuluhan kurang banyak dilakukan. Tenaga penyuluh juga dirasakan masih kurang baik untuk perkebunan, tanaman pangan, dan peternakan.

Sumber: kompas.com

Read More

November 19, 2009

Ekspor CPO Ditargetkan Tumbuh 10%

Indonesia menargetkan ekspor minyak sawit mentah (CPO) tumbuh sebesar 10% atau sekitar 17,6 juta ton dibandingkan tahun ini yang diproyeksikan akan mencapai sekitar 16 juta ton.

"Pertumbuhan permintaan CPO masih lebih tinggi dari pasokan," ujar Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Joko Supriyono, di Jakarta, Kamis, di sela pemaparan rencana Indonesia Palm Oil Conference & Outlook 2010 di Bali, pada 2-4 Desember 2009. Kondisi itu, lanjut dia, menyebabkan potensi pasar CPO masih sangat tinggi dan industri CPO memiliki prospek yang baik. Sampai September 2009, ekspor CPO nasional telah mencapai 11,47 juta ton.

Ia mengatakan dengan asumsi, ekspor CPO nasional sebesar 1,2 juta sampai 1,3 juta ton per bulan, maka sampai akhir tahun ekspor CPO akan mendekati angka 16 juta ton. "Pada tahun lalu ekspor CPO Indonesia mencapai 14,7 juta ton. Sampai September 2009 ekspor CPO telah tumbuh sekitar 16%," ujarnya. Ia memperkirakan dalam hitungan konvensional ekspor CPO masih tumbuh sekitar 10% tahun 2010.

Sedangkan produksi, lanjut Joko, juga mengalami pertumbuhan. Tahun 2008 produksi CPO nasional mencapai 19,2 juta ton dan pada tahun ini diperkirakan produksi bisa menembus angka 21 juta ton.

"Tahun depan produksi CPO nasional pasti di atas 20 juta ton, karena tahun ini saya diproyeksikan produksi akan menembus angka 21 juta ton," kata Joko.

Ia mengakui bisnis CPO mengalami tantangan yang sangat berat, terkait industri tersebut masih mengandalkan pasar ekspor yang banyak hambatannya, terutama di Uni Eropa yang menerapkan berbagai standar lingkungan. "Padahal Indonesia telah memiliki peraturan yang menjamin pengembangan perkebunan CPO secara lestari (sustainable). Pengusaha dan pemerintah harus lebih berani dan percaya diri bahwa kebijakan dan sistem yang diterapkan di Indonesia sudah menerapkan konsep pengembangan perkebunan CPO secara lestari, sehingga kita tidak dikendalikan standard asing," ujar Joko.

Dikatakannya, sampai saat ini masih banyak kampanye negatif terhadap CPO yang dilakukan secara berkesinambungan dan sistematis. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah menegakkan aturan terkait pembangunan perkebunan CPO secara lestari dan pengusaha di dalam negeri juga memiliki komitmen menjalankannya.

IPOC

Terkait dengan upaya memberi pengertian pada dunia mengenai industri CPO nasional, GAPKI menjadikan pembangunan industri sawit secara berkelanjutan dan lestari sebagai tema utama pada Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) & Outlook 2010 yang akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, pada 2-4 Desember 2009.

Ketua penyelenggara Mona Surya mengatakan pada konferensi internasional ke-5 yang diselenggarakan GAPKI itu, pihaknya mengangkat tema Sustainable Palm Oil Developmen:Challange and Opportunities.

Menurut dia, kampanye pembangunan industri sawit lestari itu sangat penting di tengah semakin gencarnya isu lingkungan terhadap industri CPO nasional.

Konferensi tersebut akan dibuka oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan sejumlah menteri yaitu Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Perdagangan Mari E Pangestu juga akan hadir sebagai pembicara yang memaparkan kebijakan Indonesia dalam pengembangan industri CPO.

Sumber:http://www.investorindonesia.com/

Read More

November 07, 2009

JE Habibie: Rotterdam Jadi Pintu Gerbang Ekspor Sumut ke Dataran Eropa

Pihak Kedutaan Besar RI di Belanda yakin optimalisasi pasar ekspor komoditas asal Sumatera Utara ke dataran Eropa bisa dipacu lebih besar.
Optimisme tersebut muncul setelah upaya menjalin kerja sama misi dagang antara Indonesia dengan Kota Rotterdam, Belanda sudah rampung khususnya dalam ekspor tembakau, kakao, dan CPO (crude palm oil).
“Kota Rotterdam jadi target kita sebagai pintu gerbang ekspor tembakau, kakao, dan CPO asal Sumut ke dataran Eropa. Karena upaya ke arah itu akan kita ditempuh melalui pagelaran pameran yang mengusung tentang keunggulan dan keuntungan komoditas asal Sumut pada April mendatang di kota tersebut,” ucap Dubes RI untuk Belanda, JE Habibie dalam kunjungannya ke Gubernuran Medan, Jumat (6/11).
Menurut JE Habibie, kerja sama misi dagang ekspor Sumut ke Belanda dan dataran Eropa lainnya, sebenarnya punya prospek cukup cerah. Namun karena kampanye hitam oleh sejumlah pihak, menjadikan minat orang Eropa terhadap komoditas ekspor Sumut anjlok.
“Karenanya pada pameran nanti, kita akan menjelaskan langsung seperti apa dan bagaimana keunggulan komoditas asal Sumut itu, termasuk untuk mengantisipasi kampanye hitam komoditas Sumut yang dikaitkan dengan isu lingkungan hidup, demokrasi, dan HAM,” jelasnya.
Tak hanya itu, kata JE Habibie, juga akan berupa memanfaatkan hubungan emosional 1,7 juta warga Belanda terhadap Indonesia, khususnya Sumut. Sebab, dari statistik yang ada, sekitar 1,7 juta warga Belanda punya pertalian darah dengan warga di Sumut.
“Saya pernah berdialog dengan salah seorang warga Belanda yang mengaku masih punya nenek moyang di Kota Binjai, Sumut. Dan saya kira, hal-hal seperti ini masih banyak ditemukan pada warga Belanda lainnya. Karenannya, kita akan memanfaatkan hubungan emosional ini untuk mendongkrak neraca ekspor Sumut,” bebernya.
Di kesempatan terpisah, Dubes RI untuk Argentina, Sunten L Manurung yang bertemu Gubsu juga menegaskan, pihaknya juga akan menggenjot ekspor komoditas asal Sumut ke wilayah tersebut. Namun dia hanya akan memfokuskan neraca ekspor pada komoditas kakao dan CPO saja. Karena devisa dari dua produk ini bisa mencapai lebih dari 100 juta dolar AS bila mengirimnya secara langsung.

Terobos Langsung

“Selama ini, ekspor dua komoditas tersebut hanya dalam bentuk bahan baku. Sehingga saat masuk ke Paraguay, dan kemudian menyebar ke daerah sekitarnya, seperti Peru dan Argentina, komoditas tersebut sudah diklaim milik negara tersebut. Makanya, ke depan kita terobos langsung pasar di negara Amerika Latin itu dengan mengirim langsung kakao dan CPO, termasuk bahan baku untuk elektronik dan spare part,” rincinya.
Menanggapi dua peluang ini, Gubsu pada prinsipnya sangat mendukung. Karenanya ia langsung memerintahkan institusi terkait bidang ekspor, untuk mempelajari masalah, dan solusi yang diperlukan.
“Selama ini, komoditas asal Sumut sudah cukup dikenal dunia luar. Namun sayangnya, kita kurang memahami mata rantai untuk melakukan ekspor sampai ke negara tujuan. Makanya, dengan kedatangan sejumlah dubes ini, menjadikan semuanya bisa terang, sehingga potensi bagi Sumut untuk meraih devisa lebih besar terbuka lebih lebar,” katanya.

Sumber:http://www.analisadaily.com

Read More

October 20, 2009

Sumut Siap Hadapi NSW

Pengusaha Sumatera Utara (Sumut) siap menghadapi sistem administrasi satu pintu (national single window, NSW) yang mulai dilaksanakan secara mandatori pada 21 Oktober 2009. “Meski sistem portal belum berlaku pada kawasan berikat, kita sudah siap dari dulu menghadapi NSW. Proses mengurus administrasi lebih cepat karena secara online,” tegas B Simanjuntak, eksportir produk hasil perikanan dan kelautan dari perusahaan Tropical Medan Canning, kepada Global, di sela sosialisasi teknis NSW di Medan, Senin (19/10). Ia mengakui, kalangan eksportir sejak lama telah menerapkan kebijakan NSW, salah satunya dalam proses penerbitan surat keterangan asal (SKA) lewat sistem otomasi.

Kasubdis Bina Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut Muzanni Lubis membenarkan kesiapan pelaku usaha, baik kalangan eksportir dan importir menyangkut diterapkannya kebijakan NSW pada Rabu (21/10). "Masih mandatori, karena efektifnya ditargetkan Desember nanti. Tapi, sepertinya pengusaha di Sumut siap. Hanya saja, ada beberapa teknis dokumen yang masih perlu dipahami, semisal soal 'sign.' Apakah tintanya harus basah atau tidak,” tuturnya.

Ketua Pelaksana Teknis Tim NSW RI, Susiwijono, menilai, secara keseluruhan kesiapan pemberlakukan sistem ini sudah matang. Kendati demikian, ia mengingatkan, kultur budaya pengusaha yang terbiasa secara manual harus berubah ke online.

“Ini sangat penting suatu bentuk penyempurnaan sistem. Perkembangan teknologi tak bisa terhindarkan jika ingin lebih kompetitif di pasar,” tegasnya.

Susiwijono mengemukakan, penerapan NSW bagi eksportir dan importir mampu memangkas waktu dan biaya, dua elemen penting dalam kegiatan arus barang keluar masuk yang bisa menimbulkan beban biaya. Meski belum bisa menghitung besaran cost terefesiensi melalui sistem ini, namun ia menyakini, pengusaha sudah mulai merasakannya.

“Bagi eksportir dan importir, time dan cost adalah dua hal penting. Dari sisi waktu layanan sangat signifikan. Dulu, izin importir harus manual sekarang online dalam hitungan menit. Cost, pararel dengan waktu, sebut saja biaya penumpukan barang di pelabuhan, jadi bisa dikurangi,” paparnya.

Selain meningkatkan efisiensi pelayanan, efektivitas pengawasan, dan optimalisasi penerimaan negara, Susiwijono menyatakan, sistem NSW juga dimaksudkan dalam akurasi data terkait kegiatan ekspor impor di Indonesia. Sekadar informasi, sistem NSW ditargetkan berjalan pada awal tahun, namun mundur hingga Desember 2009.

Source:http://www.harian-global.com/

Read More

October 19, 2009

Waduh, Ekspor Kopi Arabika ke AS Belum Pulih

Pascakrisis keuangan global, ekspor kopi jenis Arabika dari Sumatera Utara ke Amerika Serikat masih belum pulih. Namun eksportir cukup tertolong dengan membaiknya harga seiring dengan rendahnya pasokan kopi Arabika ke pasar dunia.

"Amerika Serikat (AS) yang terkena dampak krisis keuangan global terparah merupakan pasar tradisional dari ekspor kopi Arabika asal Sumut. Ekspor ke AS masih belum 100 persen pulih sejak krisis. Padahal AS merupakan pasar tradisional ekspor kopi Arabika asal Sumut. Itulah mengapa kami terus mencari pangsa pasar baru untuk ekspor kopi Arabika di luar AS," ujar Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut Suyanto Husein di Medan, Minggu (18/10).

Menurut Suyanto, AEKI masih belum bisa mencatat berapa total penurunan volume ekspor kopi Arabika Sumut ke AS pada tahun ini. Tetapi untuk tahun 2009 ini, diprediksi penurunan volume ekspor kopi Sumut secara total berkisar delapan hingga 15 persen dibanding tahun lalu. Tahun 2008, total volume ekspor kopi Sumut mencapai 54.576 ton dengan 47.348 ton di antaranya merupakan jenis Arabika. Sisanya berupa kopi Robusta dan kopi instan.

Dia mengungkapkan, eksportir kopi Sumut agak tertolong dengan membaiknya harga kopi Arabika di pasar internasional. Harga kopi Arabika untuk pengapalan bulan Desember, sudah mencapai 3,5 Dolar AS perkilogram. Sementara yang sudah dikapalkan sejak Januari harganya juga lumayan stabil, berkisar 3,2 dollar AS hingga 3,3 dollar AS perkilogram . "Kondisi ini terjadi karena tidak ada banyak pasokan," katanya.

AEKI Sumut lanjut Suyanto terus berusaha mencari pasar kopi Arabika di luar AS, yakni ke Jepang dan Eropa. Dia mengakui, memang perkembangan penetrasi pasar terhadap kopi Arabika di luar AS dan negara-negara maju agak lambat, mengingat harganya yang relatif lebih mahal dibanding kopi Robusta.

"Memang masih butuh edukasi lebih terutama ke pasar-pasar baru seperti Rusia. Pasar di sana sudah berusaha beralih ke Arabika. Tetapi ini pun masih terbatas ke negara-negara maju dengan tingkat ekonomi yang relatif mapan," katanya.

Di sisi lain, potensi produksi kopi Arabika di Sumut terus berkembang. Jika dulu kopi speciality (jenis khusus) Arabika hanya dikenal di daerah Mandailing dengan sebutan kopi Mandheling di pasar internasional, saat ini sebaran kopi jenis khusus Arabika Mandailing ini telah menyebar ke berbagai daerah di Sumut. "Apa yang dikenal dengan kopi lintong itu ya sebenarnya kopi mandailing. Termasuk kopi Siborongborong yang sekarang dipasok menjadi kopi speciality di gerai kopi Starbucks," ujar Suyanto.

Bahkan, jenis kopi Arabika yang diekspor dari Sumut juga datang dari dataran tinggi Gayo di Aceh. "Pasokan dari Aceh cukup besar," ujarnya.

Dia menuturkan, kondisi pasar kopi internasional tahun depan tak banyak berubah. Namun, jumlah pasokan kopi Arabika ke pasar dunia masih tetap diperkirakan terbatas mengingat siklus produksinya terpengaruh gejala El Nino. "Gejala El Nino yang terjadi tahun ini pasti mempengaruhi produksi kopi tahun depan yang hampir pasti turun. Kalausupply pasar masih terbatas, harga diperkirakan tetap tinggi," katanya.

Sumber:http://bisniskeuangan.kompas.com/

Read More

October 18, 2009

Permintaan CPO Diprediksi Naik 10 Persen

Para eksportir memprediksi, permintaan CPO bisa meningkat 10 persen. Selain permintaan meningkat, harga CPO juga bisa bergerak naik. Hal ini seiring datangnya musim dingin yang akan melanda negara-negara di dunia terutama Eropa diprediksi akan mendongkrak ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO) dari Indonesia.

“Kami cuma bisa berharap musim dingin nanti, harga CPO bisa bagus dan permintaan juga bisa meningkat,” kata Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapkindo) Sumut, Laksamana Adiyaksa, kepada wartawan koran ini kemarin Jumat (9/10) lalu di Medan. Menurut Laksamana, selama krisis keuangan berlangsung dan juga diterapkannya Bea Keluar (BK) pada April lalu, permintaan ekspor CPO dan harganya melemah.

Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) periode Agustus 2009, ekspor CPO asal Sumut turun sebesar 39,59 persen jika dibanding pada periode sama setahun lalu. Volume ekspor pada Agustus 2009 tercatat 355,450,744 kg dan nilainya 218,399,385 dolar. Pada periode sama setahun lalu volume ekspor CPO beserta fraksinya berada di level 373,710,755 kg dan nilainya 361,534,136 dolar.

Komoditas ini diekspor ke beberapa negara tujuan seperti India, Mesir, China, Malaysia, Belanda, dan Singapura pada Agustus 2009. Negara tujuan ekspor inipun mengalami penurunan. Misalnya saja, pada Agustus 2009 tidak ada terjadi permintaan dari negara Pakistan, Ukraina dan Rusia.

Di tempat terpisah Kepala Seksi Hasil Pertanian dan Pertambangan Subdis Perdagangan Luar Negeri (PLN), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia mengatakan, BK yang diterapkan pemerintah bukan untuk membuat ekspor CPO dari Sumut menjadi anjlok. Tapi untuk menjaga stabilitas harga dan juga pasokan di dalam negeri. “BK hanya diterapkan jika harga CPO sudah di atas ketentuan. Sejak Agustus hingga bulan ini, tidak ada BK karena harga CPO berdasarkan Rotterdam di bawah 700 dolar per ton,” katanya.

Sementara pengamat perdagangan luar negeri Suhariel Latif mengatakan, sebelumnya ada isu harga CPO akan terdongkrak naik akibat adanya isu pasokan kedelai di beberapa negara produsen menipis. Tapi menurutnya, isu itu ternyata tidak bisa membuat harga CPO turut bergerak naik. Dia memprediksi pada Desember nanti, permintaan CPO baru akan bergerak naik. Soalnya di beberapa negara tujuan ekspor Sumut akan terjadi musim dingin.

Pada saat musim dingin, sambungnya, permintaan CPO diperkirakan akan naik hingga 10 persen. Selain permintaan, harga juga diprediksi akan bergerak naik. “Diprediksi harga di atas 700 dolar per metrik ton.

Sumber:http://www.hariansumutpos.com/

Read More

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Blogger Templates