Pages

Showing posts with label kopi. Show all posts
Showing posts with label kopi. Show all posts

November 24, 2010

Penyakit Susutkan Harga Jual Kopi

Cuaca yang tidak menentu membikin penyakit tanaman tumbuh dengan begitu suburnya di sejumlah sentra perkebunan kopi di Sumatera, di antaranya di Naggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara.

"Awalnya buah kopi itu banyak., namun kena penyakit buahnya menguning kemudian rontok," kata Yamanah AC, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan (Kemdag) di Jakarta, Jumat (19/11).

Penyakit ini mengakibatkan produktivitas tanaman kopi anjlok. Selain merontokan buah yang siap panen, kopi yang sudah dipanen juga rusak. Jadi, dengan kualitas yang menyusut seperti ini, harga jual pun ikut melorot.

Yamanah memperkirakan, penyakit kopi itu muncul akibat cuaca yang basah sehingga penyebaran penyakit kopi begitu cepatnya. Ia menyayangkan adanya penyebaran penyakit saat harga kopi sedang manis-manisnya seperti saat ini. "Harga bagus tapi dari volume kita tidak bisa banyak ekspor," ujarnya menjelaskan.

Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sumut Fitra Kurnia mengatakan untuk jenis kopi arabika, nilai ekspor Sumut per September 2009 sebanyak 4,5 ribu ton dengan nilai 144,3 juta dolar AS. Kenaikan 12, 78 persen pada bulan Oktober 2010 sebesar 51,5 ribu ton dengan nilai 162,7 juta dolar AS.

Kopi jenis robusta sebanyak 7,9 ribu ton tahun 2010 pada Januari - Oktober 2010 senilai 11,3 juta dolar AS.

Menurut Fitra, saat ini para eksportir kopi Sumut mengalami guncangan, diakibatkan cuaca yang ekstrim. Hal ini membuat para eksportir kopi harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi permintaan dari negara asing. Sulitnya mendapatkan biji kopi yang bagus akibat produksi kopi menurun.

Para eksportir kopi Sumut terancam rugi dan mengalami kebangkrutan, sebab biaya pengiriman lebih besar dari pada pendapatan dari hasil penjualan kopi tersebut. "Jumlah minimal yang harus dikirim adalah 19 ton untuk sekali pengiriman" kata Fitra
Sumber:tribun-medan.com
Read More

November 09, 2010

Eksportir Kopi Masih Wait and See

Meski terancam gulung tikar, eksportir kopi ternyata masih wait and see dalam meneruskan bisnisnya. Sebab, semakin tingginya harga kopi dunia dan di tingkat petani, eksportir belum berani membuat kontrak baru untuk tahun 2011. Eksportir kopi Sumut, Suryo Pranoto, mengakui sulitnya perdagangan kopi itu meski permintaan justru bertambah banyak termasuk dari China. Awalnya pengusaha memperkirakan harga arabika lokal sudah mulai turun di awal Oktober karena musim panen, nyatanya musim itu belum masuk juga sehingga pasokan tetap sulit dan membuat harga bertahan mahal.
“Kita masih lihat kondisi dululah kalau mau buat perjanjian kontrak baru. Ini saja kami sudah harus menutupi biaya tambahan karena harga di tingkat terminal juga sudah naik,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (12/11).
Menurutnya, permintaan buyer terhadap kopi juga belum menampakkan peningkatan karena masih menunggu turunnya harga jual kopi tingkat dunia yang sudah menembus US$209,50 per pound. Jadi, pengusaha masih menunggu untuk melakukan transaksi baru untuk tahun 2011. “Kalau mau buat kontrak baru, kita takut kalau produksi tidak ada. Harga beli kopi di tingkat petani juga sangat tinggi. Jadi benar-benar tidak menguntungkan,” ucapnya.
Kondisi semakin parah karena hampir semua eksportir berebut untuk menyimpan stok karena khawatir harga tinggi lagi sehingga tidak mampu memenuhi kontak. Hal ini perlahan-lahan bisa membuat harga kopi melonjak menjadi Rp 37.000 hingga Rp 38.000 per kg.
Sekretaris Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut, Saidul Alam, mengatakan, eksportir hanya pasrah tidak bisa berbuat banyak dengan terus meningkatnya harga jual kopi. “Harga kopi di tingkat petani terus mengalami kenaikan karena penurunan produksi akibat perubahan iklim. Tapi kami pasrah aja dulu meski terancam gulung tikar,” ujarnya.
Dikatakannya, tingginya harga kopi saat ini memang banyak membuat eksportir mengalami kerugian karena harus mengeluarkan biaya tambahan akibat harga di tingkat terminal atau harga maksimal dijual US$ 4,7 per kg atau setara dengan Rp 41.000 per kg.
Saat ini, harga kopi di bursa New York yang menembus US$ 209,50 per pound, sedangkan harga terminal US$ 4,7 per kg atau sekitar Rp 41.000 per kg untuk ready ekspor. Harga lokal yang masih menembus Rp35.000 per kg dan ekspor yang tidak seimbang itu membuat eksportir bukan saja tidak berani membuat kontrak baru, bahkan cenderung memilih tidak mengekspor. “Kalau-pun ada ekspor, itu hanya untuk menutup kontrak dengan mitra kerja di luar negeri,” ucapnya.
Ditambahkan Saidul, kondisi harga dan menurunnya produksi kopi secara langsung mengancam bisnis pihak eksportir karena harga yang dibeli lebih tinggi daripada dijual. Menurutnya, tingginya harga kopi di lokal itu dipicu terlambatnya masa panen kopi arabika itu sehingga terjadi pasokan yang ketat. Kondisi seperti itu yang membuat pengusaha tidak begitu antusias dengan tawaran beberapa eksportir baru dari beberapa negara yang berminta bermitra perdagangan kopi itu dewasa ini. “Bagaimana mau penuhi permintaan, memenuhi kontrak saja sulit karena produksi yang terus menurun,” katanya.
Kasie Ekspor Hasil Pertanian dan Pertambangan Sub Dinas Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sumut, Fitra Kurnia menambahkan, kondisi seperti ini memang sangat disayangkan mengingat kopi merupakan salah satu komoditas yang diunggulkan di Sumut.
“Jika semakin banyak eksportir tidak mengekspor dikhawatirkan kopi dari Sumut tidak ada lagi, namun kita tidak bisa berbuat banyak karena memang ini tergantung kondisi,” imbuhnya pasrah. 
Sumber:medanbisnisdaily.com
Read More

October 19, 2009

Waduh, Ekspor Kopi Arabika ke AS Belum Pulih

Pascakrisis keuangan global, ekspor kopi jenis Arabika dari Sumatera Utara ke Amerika Serikat masih belum pulih. Namun eksportir cukup tertolong dengan membaiknya harga seiring dengan rendahnya pasokan kopi Arabika ke pasar dunia.

"Amerika Serikat (AS) yang terkena dampak krisis keuangan global terparah merupakan pasar tradisional dari ekspor kopi Arabika asal Sumut. Ekspor ke AS masih belum 100 persen pulih sejak krisis. Padahal AS merupakan pasar tradisional ekspor kopi Arabika asal Sumut. Itulah mengapa kami terus mencari pangsa pasar baru untuk ekspor kopi Arabika di luar AS," ujar Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut Suyanto Husein di Medan, Minggu (18/10).

Menurut Suyanto, AEKI masih belum bisa mencatat berapa total penurunan volume ekspor kopi Arabika Sumut ke AS pada tahun ini. Tetapi untuk tahun 2009 ini, diprediksi penurunan volume ekspor kopi Sumut secara total berkisar delapan hingga 15 persen dibanding tahun lalu. Tahun 2008, total volume ekspor kopi Sumut mencapai 54.576 ton dengan 47.348 ton di antaranya merupakan jenis Arabika. Sisanya berupa kopi Robusta dan kopi instan.

Dia mengungkapkan, eksportir kopi Sumut agak tertolong dengan membaiknya harga kopi Arabika di pasar internasional. Harga kopi Arabika untuk pengapalan bulan Desember, sudah mencapai 3,5 Dolar AS perkilogram. Sementara yang sudah dikapalkan sejak Januari harganya juga lumayan stabil, berkisar 3,2 dollar AS hingga 3,3 dollar AS perkilogram . "Kondisi ini terjadi karena tidak ada banyak pasokan," katanya.

AEKI Sumut lanjut Suyanto terus berusaha mencari pasar kopi Arabika di luar AS, yakni ke Jepang dan Eropa. Dia mengakui, memang perkembangan penetrasi pasar terhadap kopi Arabika di luar AS dan negara-negara maju agak lambat, mengingat harganya yang relatif lebih mahal dibanding kopi Robusta.

"Memang masih butuh edukasi lebih terutama ke pasar-pasar baru seperti Rusia. Pasar di sana sudah berusaha beralih ke Arabika. Tetapi ini pun masih terbatas ke negara-negara maju dengan tingkat ekonomi yang relatif mapan," katanya.

Di sisi lain, potensi produksi kopi Arabika di Sumut terus berkembang. Jika dulu kopi speciality (jenis khusus) Arabika hanya dikenal di daerah Mandailing dengan sebutan kopi Mandheling di pasar internasional, saat ini sebaran kopi jenis khusus Arabika Mandailing ini telah menyebar ke berbagai daerah di Sumut. "Apa yang dikenal dengan kopi lintong itu ya sebenarnya kopi mandailing. Termasuk kopi Siborongborong yang sekarang dipasok menjadi kopi speciality di gerai kopi Starbucks," ujar Suyanto.

Bahkan, jenis kopi Arabika yang diekspor dari Sumut juga datang dari dataran tinggi Gayo di Aceh. "Pasokan dari Aceh cukup besar," ujarnya.

Dia menuturkan, kondisi pasar kopi internasional tahun depan tak banyak berubah. Namun, jumlah pasokan kopi Arabika ke pasar dunia masih tetap diperkirakan terbatas mengingat siklus produksinya terpengaruh gejala El Nino. "Gejala El Nino yang terjadi tahun ini pasti mempengaruhi produksi kopi tahun depan yang hampir pasti turun. Kalausupply pasar masih terbatas, harga diperkirakan tetap tinggi," katanya.

Sumber:http://bisniskeuangan.kompas.com/

Read More

October 15, 2009

Eksportir Kopi Terancam Pecah

Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 41 Tahun 2009 tentang Pengaturan Penetapan Pelaku Ekspor Kopi yang mulai berlaku efektif sejak 15 Oktober 2009 dikhawatirkan bakal membuat “jurang” antara eksportir kopi besar dengan pemain skala kecil. Pasalnya,  dalam aturan itu disebutkan ketentuan volume pengiriman eksportir kopi sementara (EKS) minimal 200 ton per tahun, sebelum menjadi eksportir kopi tetap (EKT). “Ini akan membuat 'gap' antara para eksportir karena jaminan pengiriman minimal 200 ton per tahun itu,” ucap Dharma, eksportir kopi asal Sumut, di Medan, Rabu (14/10).

Pemilik CV Sidikalang yang bergerak di bidang ekspor kopi itu memperkirakan kebijakan pemerintah melalui Permendag No 41/2009 menjadi dilema baru bagi pemain kopi nasional, mengingat musim pengiriman kopi tak selamanya ramai karena tergantung beberapa faktor. “Memang untuk saat ini kita mampu mengirim di atas 200 ton, namun ada masanya ketika harga tidak cocok, kita tahan dulu penjualan daripada merugi,” tutur anggota Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumut ini.

Diakuinya, CV Sidikalang maksimal mengekspor 1.500 ton biji kopi dan minimal 800 ton setahun. Kepala Seksi Hasil Pertanian dan Pertambangan Dinas Perindagsu, Fitra Kurnia, membenarkan adanya peraturan baru yang berlaku efektif tanggal 15 Oktober ini. Kebijakan tersebut diambil, mengingat selama ini banyak eksportir saat melakukan pengapalan hanya mampu mencapai 16 ton.

“Jadi sekarang ada aturan di mana pengapalan minimal 200 ton per tahun atau sebulan sekitar 9 ton,” tukas Fitra lantas menambahkan, dengan terealisasinya kebijakan baru ini, EKS akan mematuhi aturan Permendag No 41 Tahun 2009 sebelum diajukan menjadi EKT.

Saat ini, lanjut Fitra, Sumut memiliki 130 eksportir terdaftar, namun yang aktif hanya 48 perusahaan. Adanya Permendag ini juga diharapkan mengatur kembali para eksportir yang selama ini tidak kontiniu melakukan pengiriman. Mengenai tren pergerakan harga kopi saat ini, ia menyatakan tetap stabil di kisaran Rp 29 ribu per kg untuk jenis biji kopi Arabika. Sedangkan harga ekspor mencapai US$1,32 per kg.

Sumber:http://www.harian-global.com/

Read More

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Blogger Templates