Pages

Showing posts with label cpo. Show all posts
Showing posts with label cpo. Show all posts

November 19, 2010

CPO Naik, Harga Minyak Goreng Melonjak

Para produsen sawit di dalam negeri mengakui harga crude palm oil (CPO) internasional terus naik di luar dari perkiraan. Dibandingkan pada tahun lalu para produsen sawit di dunia termasuk lokal hanya memperkirakan dibawah US$ 1.000 per metrik ton.
Akan tetapi sampai dengan November 2010 harga semakin melonjak tinggi mencapai 1.115 dolar AS per metrik ton. Hal ini selain mengundang pengusaha untuk melakukan ekspor juga berakibat dengan naiknya harga minyak goreng lokal di pasaran.
Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatera Utara, Laksamana Adhyaksa di Medan, Kamis (18/11) menyatakan kenaikan harga sawit ini di luar perkiraan, otomatis berhubungan dengan kenaikan minyak goreng lokal.
“Kenaikan minyak goreng di pasaran dalam negeri khususnya Sumatera Utara dimungkinkan karena harga CPO di dunia mengalami peningkatan. Otomatis dengan kenaikan CPO sebagai bahan baku minyak goreng mempengaruhi harga jual minyak goreng di pasar,” ujarnya.

Hasil laporan dari CIF Rotterdan, lanjutnya, harga pengapalan pada November 2010 harga CPO telah mencapai 1.115 dolar AS per metrik ton dan diperkirakan akan tetap tinggi bahkan semakin meningkat menjelang akhir tahun.
“Ini prediksi kita mengingat kebutuhan CPO dari luar negeri semakin meningkat seperti dari India, dan China kemudian disusul negara Eropa lainnya,” ujarnya.
Begitupun, lanjutnya, dengan harga yang semakin membaik itu memacu tingginya permintaan sehingga transaksi dagang sering tersendat karena penjual dan pembeli saling melakukan “wait and see”.
Harga ekspor yang menguat itu sendiri juga langsung berpengaruh kepada harga CPO di pasar lokal, dimana pada 5 November 2010 harga tender sudah mencapai Rp9.217 per kg dari harga sebelumnya Rp9.060 per kg.
“Bahkan saat ini mendekati Rp10.000, walaupun belum beranjak ke sana akan tetapi prediksi kita kemungkinan akan mendekati angka tersebut,” lanjutnya.
Sementara dengan kenaikan harga CPO di dunia harga minyak goreng di pasar tradisional pun mengalami kenaikan dari Rp 8.800 per kg menjadi Rp9.800 bahkan di eceran mencapai Rp10.000 s/d Rp10.500 per kg.
Sedangkan untuk minyak goreng curah putih dari sebelumnya Rp11.000 naik menjadi Rp12.000 per kg bahkan di eceran tidak banyak yang menjual kecuali kemasan seperti kantungan satu liter ataupun dua liter dengan harga Rp12.000 s/d Rp15.000 per kantungan satu liternya.
Hasibuan, pedagang pasar tradisional Pusat Pasar menyatakan harga minyak goreng curah mengalami kenaikan yang dipatokkan dari distributor hal ini mengingat harga bahan bakunya mengalami kenaikan.
“Kenaikan harga CPO di dunia mempengaruhi harga bahan baku pembuatan minyak goreng curah sehingga otomatis harga pun mengalami kenaikan,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Panusunan Siregar menyebutkan, devisa dari lemak dan minyak hewan-nabati pada Januari-September 2010 naik 30,78 persen dibandingkan periode sama tahun lalu atau menjadi 2,552 miliar dolar AS.
Meskipun, kata dia, pada September 2010 devisa dari golongan barang itu sempat turun 38,12 persen dibandingkan Agustus atau tinggal 333,353 juta dolar AS. Ekspor minyak sawit itu terbesar ke India, China dan Eropa

Sumber:waspadamedan.com
Read More

November 16, 2010

Harga CPO Melambung Tinggi

Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) saat ini mencapai rekor hingga menembus di atas 1.100 dolar AS per ton. Kenaikan harga yang menembus di atas ramalan harga tahun ini sebesar 800 dolar AS per ton itu dinilai akibat La Nina yang menekan produsen kelapa sawit.
"Ada masalah dengan supply and demand, pasar bergerak cepat," kata Bambang Aria Wisena, ketua Bidang Organisasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) di Jakarta, Senin (15/11).
Menurut Bambang, terdapat kegagalan panen di Ukraina dan Rusia, sehingga membuat produksi CPO turun. Di Indonesia, iklim yang buruk membuat target produksi meleset di bawah target, sehingga permintaan tinggi tidak didorong pasokan kelapa sawit yang bagus.

Saat ini, dia melanjutkan, kelapa sawit menjadi primadona investasi akibat orang mulai kehilangan kepercayaan kepada dolar Amerika Serikat. Apalagi, didorong harga CPO yang melambung tinggi, sedangkan kebutuhan manusia terhadap minyak nabati terus meningkat.
"Kebutuhan dunia mencapai 160 juta ton per tahun minyak nabati, 30 persen di antaranya dipenuhi CPO," ujar Bambang. Dia berharap, melambungnya harga CPO tersebut diharapkan dapat kembali normal seperti harga yang diprediksi sebelumnnya, yaitu US$800 per ton. Jika harga CPO terlalu tinggi, tentunya akan membebani masyarakat dengan mahalnya produk CPO yang ada di pasaran seperti minyak goreng.
Tingginya harga juga membuat banyak industri pengolah CPO melakukan penimbunan, karena ketakutan akan harga yang meningkat. Hal ini tentunya mendorong perusahaan pengolah CPO melakukan spekulasi dan menyebabkan harga semakin tinggi.
"Biasanya, mereka menyimpan basis produksi selama tiga bulan ke depan untuk mengantisipasi melonjaknya harga CPO. Idealnya harga US$800 per ton, karena kalau mahal kasihan juga masyarakat, harga minyak goreng jadi tinggi," katanya.
Sementara itu, pengusaha kelapa sawit mendesak pemerintah agar menggunakan mata uang rupiah untuk harga patokan ekspor (HPE) kelapa sawit Indonesia. Selama ini, transaksi harga masih menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.
Sumber:tribun-medan.com
Read More

November 01, 2010

Dermaga CPO Belawan Diperpanjang


Dermaga CPO Belawan Diperpanjang
Peningkatan aktivitas pengapalan minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO) dalam bentuk curah cair di Pelabuhan Belawan, mendorong pihak pengelola, yakni Pelindo I berencana menambah dermaga sepanjang 120 meter, berikut rak dan dua loading point. Direncanakan, pekerjaan itu rampung pada 2011.
General Manager Pelindo I Belawan, Syahputra Sembiring, menyatakan, saat ini panjang dermaga CPO berkisar 325 meter dan memiliki empat loading point, dengan masing-masing 16 outlet. Namun, ukuran itu hanya bisa menampung dua kapal, yang memiliki panjang kapal, masing-masing berkisar 10 meter dan daya muat sekitar 10 ribu ton CPO per kapal. Sementara, kunjungan kapal pengangkut CPO kian meningkat, sehingga terpaksa mengantre di perairan bouy I luar Pelabuhan Belawan. "Diharapkan, melalui perpanjangan dermaga, tidak akan terjadi lagi antrean kapal," ungkapnya kepada Global di Medan, Kamis (28/10).
Dikemukakannya, ekspor CPO melalui Pelabuhan Belawan pada periode Januari-September 2010 mencapai 2.084.516 ton. Ia menyatakan, produksi CPOitu berasal dari sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Sumatera Utara dan diekspor secara bertahap ke sejumlah negara di kawasan Asia seperti India, Malaysia, Singapura dan Eropa.
Pada kesempatan itu, Syahputra membantah keterlambatan waktu sandar kapal yang berkisar empat sampai hari di Pelabuhan Belawan, sepenuhnya kelemahan kinerja Pelindo. Menurutnya, terdapat faktor lain yang berada di luar tanggung jawab Pelindo I. "Ada dua faktor penyebabnya, pelayanan kapal dan pelayanan barang," tukasnya. Khusus pelayanan kapal, kata Syahputra, langsung ditangani Pelindo I dan perannya hanya berkisar 30-40%.
Peran mayoritas justru berada pada faktor pelayanan barang yang dilakukan tenaga kerja bongkar-muat, ekspedisi kapal laut, perlengkapan kerja tak memadai, serta terkait administrasi pengurusan barang. "Itu di luar wewenang Pelindo I Belawan," tegasnya.
Sebagai operator pelabuhan, pihak Pelindo I juga memberikan sanksi tegas terhadap pihak pelayaran yang melanggar aturan. Salah satunya, bila waktu sandar kapal di dermaga konvensional pelabuhan Belawan melebihi ketentuan yang telah disepakati. Hal itu dibenarkan Manajer Pelayanan Dermaga Belawan, Ngatiman. “Itu konsekuensinya, bila waktu sandar kapal molor dari kesepakatan, pihak pelayaran harus rela meninggalkan dermaga untuk sementara,” tegasnya.
Sumber:harian-global.com
Read More

October 29, 2010

Belgia Tertarik Investasi di Sumut


Belgia Tertarik Investasi di Sumut

Belgia berencana memperluas investasi di Indonesia dari sekitar 25 proyek yang sudah ada selama ini dan Sumatera Utara adalah salah satu daerah yang diincar negara itu.
Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Christian Tanghe, mengakui, investasi pengusaha Belgia di Indonesia hingga dewasa ini masih terfokus di daerah Jawa dengan bidang manufaktur seperti industri chemical.
"Pengusaha Belgia semakin tertarik berinvestasi maupun melakukan kerja sama dagang dengan pengusaha Indonesia termasuk di Sumut yang dinilai sangat berpotensi khususnya di bidang perkelapasawitan," kata Christian, usai bertemu dengan pengusaha lokal, di Kantor Kadin Sumut, Rabu (27/10).
Christian menyebutkan, sebenarnya di Sumut, investasi Belgia sudah ada yakni bidang perkebunan kelapa sawit, yakni PT.Tolan Tiga, tetapi itu dinilai masih belum cukup. Diyakini masih banyak peluang lain dan itu sedang dijajaki dalam kunjungan beberapa hari di Sumut.
Menurut Christian, dengan adanya nanti kerja sama, bisa jadi Belgia menjadi penepis isu negatif tentang keamanan dan termasuk kampanye negatif persawitan Indonesia. Eropa termasuk pasar yang penting untuk CPO Indonesia dan sebaliknya Eropa membutuhkan produk itu." Jadi kerja sama antara negara-negara di Eropa seperti Belgia dan Indonesia harus dipelihara," katanya.
Wakil Ketua bidang Investasi dan Kerja Sama Internasional Kadin Sumut, Jonner Napitupulu, mengatakan, rencana perluasan investasi Belgia di Indonesia harus ditanggapi serius khususnya oleh Pemerintah Provinsi Sumut dan pengusaha.
Apalagi, menurutnya, kalau minat investasi Belgia itu adalah di sektor hilir sawit mengingat produk turunan CPO yang ada di Indonesia masih sangat sedikit dibandingkan apa yang sudah dilakukan Malaysia.


Sumber:tribunmedan
Read More

December 17, 2009

Unilever Hentikan Pembelian Minyak Sawit Sinar Mas

Unilever PLC, Jumat (11/12/2009), menyatakan menghentikan pembelian minyak kelapa sawit dari PT Sinar Mas Agro Resources & Technology.

Keputusan salah satu perusahan good consumer terbesar dunia itu seiring dengan adanya laporan dari LSM lingkungan Greenpeace yang menyebutkan bahwa Sinar Mas telah melakukan penebangan ilegal di hutan Kalimantan Barat untuk membangun perkebunan sawit.

Sementara itu, juru bicara Sinar Mas menyatakan bahwa tuduhan Greenpeace tersebut tidak akurat. Namun, dia tidak berkomentar lebih lanjut. Ia hanya mengatakan, pihak perusahaan sedang menyiapkan respons detail. "Pasar minyak sawit terbagi-bagi, artinya penghentian pesanan dari Unilever PLC tidak akan mengganggu penjualan secara keseluruhan," tambah dia seperti dikutip Dow Jones.

Read More

November 19, 2009

Ekspor CPO Ditargetkan Tumbuh 10%

Indonesia menargetkan ekspor minyak sawit mentah (CPO) tumbuh sebesar 10% atau sekitar 17,6 juta ton dibandingkan tahun ini yang diproyeksikan akan mencapai sekitar 16 juta ton.

"Pertumbuhan permintaan CPO masih lebih tinggi dari pasokan," ujar Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Joko Supriyono, di Jakarta, Kamis, di sela pemaparan rencana Indonesia Palm Oil Conference & Outlook 2010 di Bali, pada 2-4 Desember 2009. Kondisi itu, lanjut dia, menyebabkan potensi pasar CPO masih sangat tinggi dan industri CPO memiliki prospek yang baik. Sampai September 2009, ekspor CPO nasional telah mencapai 11,47 juta ton.

Ia mengatakan dengan asumsi, ekspor CPO nasional sebesar 1,2 juta sampai 1,3 juta ton per bulan, maka sampai akhir tahun ekspor CPO akan mendekati angka 16 juta ton. "Pada tahun lalu ekspor CPO Indonesia mencapai 14,7 juta ton. Sampai September 2009 ekspor CPO telah tumbuh sekitar 16%," ujarnya. Ia memperkirakan dalam hitungan konvensional ekspor CPO masih tumbuh sekitar 10% tahun 2010.

Sedangkan produksi, lanjut Joko, juga mengalami pertumbuhan. Tahun 2008 produksi CPO nasional mencapai 19,2 juta ton dan pada tahun ini diperkirakan produksi bisa menembus angka 21 juta ton.

"Tahun depan produksi CPO nasional pasti di atas 20 juta ton, karena tahun ini saya diproyeksikan produksi akan menembus angka 21 juta ton," kata Joko.

Ia mengakui bisnis CPO mengalami tantangan yang sangat berat, terkait industri tersebut masih mengandalkan pasar ekspor yang banyak hambatannya, terutama di Uni Eropa yang menerapkan berbagai standar lingkungan. "Padahal Indonesia telah memiliki peraturan yang menjamin pengembangan perkebunan CPO secara lestari (sustainable). Pengusaha dan pemerintah harus lebih berani dan percaya diri bahwa kebijakan dan sistem yang diterapkan di Indonesia sudah menerapkan konsep pengembangan perkebunan CPO secara lestari, sehingga kita tidak dikendalikan standard asing," ujar Joko.

Dikatakannya, sampai saat ini masih banyak kampanye negatif terhadap CPO yang dilakukan secara berkesinambungan dan sistematis. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah menegakkan aturan terkait pembangunan perkebunan CPO secara lestari dan pengusaha di dalam negeri juga memiliki komitmen menjalankannya.

IPOC

Terkait dengan upaya memberi pengertian pada dunia mengenai industri CPO nasional, GAPKI menjadikan pembangunan industri sawit secara berkelanjutan dan lestari sebagai tema utama pada Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) & Outlook 2010 yang akan diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, pada 2-4 Desember 2009.

Ketua penyelenggara Mona Surya mengatakan pada konferensi internasional ke-5 yang diselenggarakan GAPKI itu, pihaknya mengangkat tema Sustainable Palm Oil Developmen:Challange and Opportunities.

Menurut dia, kampanye pembangunan industri sawit lestari itu sangat penting di tengah semakin gencarnya isu lingkungan terhadap industri CPO nasional.

Konferensi tersebut akan dibuka oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan sejumlah menteri yaitu Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Perdagangan Mari E Pangestu juga akan hadir sebagai pembicara yang memaparkan kebijakan Indonesia dalam pengembangan industri CPO.

Sumber:http://www.investorindonesia.com/

Read More

November 07, 2009

JE Habibie: Rotterdam Jadi Pintu Gerbang Ekspor Sumut ke Dataran Eropa

Pihak Kedutaan Besar RI di Belanda yakin optimalisasi pasar ekspor komoditas asal Sumatera Utara ke dataran Eropa bisa dipacu lebih besar.
Optimisme tersebut muncul setelah upaya menjalin kerja sama misi dagang antara Indonesia dengan Kota Rotterdam, Belanda sudah rampung khususnya dalam ekspor tembakau, kakao, dan CPO (crude palm oil).
“Kota Rotterdam jadi target kita sebagai pintu gerbang ekspor tembakau, kakao, dan CPO asal Sumut ke dataran Eropa. Karena upaya ke arah itu akan kita ditempuh melalui pagelaran pameran yang mengusung tentang keunggulan dan keuntungan komoditas asal Sumut pada April mendatang di kota tersebut,” ucap Dubes RI untuk Belanda, JE Habibie dalam kunjungannya ke Gubernuran Medan, Jumat (6/11).
Menurut JE Habibie, kerja sama misi dagang ekspor Sumut ke Belanda dan dataran Eropa lainnya, sebenarnya punya prospek cukup cerah. Namun karena kampanye hitam oleh sejumlah pihak, menjadikan minat orang Eropa terhadap komoditas ekspor Sumut anjlok.
“Karenanya pada pameran nanti, kita akan menjelaskan langsung seperti apa dan bagaimana keunggulan komoditas asal Sumut itu, termasuk untuk mengantisipasi kampanye hitam komoditas Sumut yang dikaitkan dengan isu lingkungan hidup, demokrasi, dan HAM,” jelasnya.
Tak hanya itu, kata JE Habibie, juga akan berupa memanfaatkan hubungan emosional 1,7 juta warga Belanda terhadap Indonesia, khususnya Sumut. Sebab, dari statistik yang ada, sekitar 1,7 juta warga Belanda punya pertalian darah dengan warga di Sumut.
“Saya pernah berdialog dengan salah seorang warga Belanda yang mengaku masih punya nenek moyang di Kota Binjai, Sumut. Dan saya kira, hal-hal seperti ini masih banyak ditemukan pada warga Belanda lainnya. Karenannya, kita akan memanfaatkan hubungan emosional ini untuk mendongkrak neraca ekspor Sumut,” bebernya.
Di kesempatan terpisah, Dubes RI untuk Argentina, Sunten L Manurung yang bertemu Gubsu juga menegaskan, pihaknya juga akan menggenjot ekspor komoditas asal Sumut ke wilayah tersebut. Namun dia hanya akan memfokuskan neraca ekspor pada komoditas kakao dan CPO saja. Karena devisa dari dua produk ini bisa mencapai lebih dari 100 juta dolar AS bila mengirimnya secara langsung.

Terobos Langsung

“Selama ini, ekspor dua komoditas tersebut hanya dalam bentuk bahan baku. Sehingga saat masuk ke Paraguay, dan kemudian menyebar ke daerah sekitarnya, seperti Peru dan Argentina, komoditas tersebut sudah diklaim milik negara tersebut. Makanya, ke depan kita terobos langsung pasar di negara Amerika Latin itu dengan mengirim langsung kakao dan CPO, termasuk bahan baku untuk elektronik dan spare part,” rincinya.
Menanggapi dua peluang ini, Gubsu pada prinsipnya sangat mendukung. Karenanya ia langsung memerintahkan institusi terkait bidang ekspor, untuk mempelajari masalah, dan solusi yang diperlukan.
“Selama ini, komoditas asal Sumut sudah cukup dikenal dunia luar. Namun sayangnya, kita kurang memahami mata rantai untuk melakukan ekspor sampai ke negara tujuan. Makanya, dengan kedatangan sejumlah dubes ini, menjadikan semuanya bisa terang, sehingga potensi bagi Sumut untuk meraih devisa lebih besar terbuka lebih lebar,” katanya.

Sumber:http://www.analisadaily.com

Read More

November 02, 2009

Petani Sawit Andalkan Tanaman Tua

Ternyata, petani kelapa sawit, terutama yang tergolong dengan perkebunan rakyat, tak mampu memperoleh hasil maksimal. Pasalnya, tanaman yang dimiliki para petani, umumnya berusia lanjut, sehingga produksinya semakin menurun. Hal itu dibenarkan Sekjen DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Asmar Arsjad, dalam suatu kesempatan di Medan. Dijelaskannya, tak kurang dari 1,5 juta hektar dari 2,7 juta hektar lahan kelapa sawit rakyat, memiliki produktivitas rendah. Guna memaksimalkan produksi buahnya, dibutuhkan replanting (penanaman kembali -red).

"Saat ini, produktivitasnya berkisar di bawah 10 ton tandan buah segar per hektar. Selain akibat usia tanaman yang sudah tua, bisa juga petani tidak menggunakan bibit unggul," ujarnya.
Kondisi itu menyebabkan petani sawit bakal merugi, terutama saat harga TBS anjlok di pasaran akibat tingginya biaya produksi.

Padahal, dana replanting bisa memanfaatkan dana pungutan ekspor CPO yang selama ini dikutip pemerintah. Apalagi, dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 26/2007 tentang Izin Usaha Perkebunan, tersirat akan tekad pemerintah yang mencoba memfokuskan pengembangan kelapa sawit berbasis tanaman rakyat. Hal itu bisa terlihat dari salah satu poin yang mewajibkan pengusaha perkebunan kelapa sawit membuka areal untuk kebun rakyat seluas 20% dari lahan mereka.

"Jadi, peremajaan tanaman kelapa sawit harus mendapat prioritas seperti rencana pemerintah dalam Permentan nomor 26 tahun 2007 tentang Izin Usaha Perkebunan," tandasnya.

Sumber:http://www.harian-global.com/

Read More

November 01, 2009

TBS Menurun

Pihak Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut kesulitan memenuhi kontrak kerja sama titip buah sawit ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 3 akibat produksi mengalami penurunan.

"Harusnya, sedikitnya 600 ton TBS yang harus dipasok ke tiga PKS milik PTPN3, tapi nyatanya hingga bulan ini masih rata-rata 300 ton," papar Ketua Apkasindo Sumut, Ahmad Rinto Gunari, di Medan, beberapa waktu lalu.

Ia menyatakan, musim trek yang berkepanjangan disusul hujan berkepanjangan, membuat pihak Apkasindo kesulitan mengumpulkan TBS dari petani anggota asosiasi itu. "Pedagang pengumpul juga merasakan hal sama sehingga pabrikan mulai kekurangan bahan baku di tengah harga jual yang sedang naik," ujarnya.

Rinto mengakui, pihak Apkasindo telah bekerjasama dengan beberapa perusahaan perkebunan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan adanya kepastian penjualan, maka harga petani bisa sesuai harga pasar, bukan seperti selama ini yang sering dipermainkan beberapa pihak. Sebelum dengan PTPN 3, pihak Apkasindo sudah menjalin kerja sama titip olah dengan PTPN 4 dan terbukti sangat memberi keuntungan kepada petani.

Sumber:http://www.harian-global.com/

Read More

October 18, 2009

Permintaan CPO Diprediksi Naik 10 Persen

Para eksportir memprediksi, permintaan CPO bisa meningkat 10 persen. Selain permintaan meningkat, harga CPO juga bisa bergerak naik. Hal ini seiring datangnya musim dingin yang akan melanda negara-negara di dunia terutama Eropa diprediksi akan mendongkrak ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO) dari Indonesia.

“Kami cuma bisa berharap musim dingin nanti, harga CPO bisa bagus dan permintaan juga bisa meningkat,” kata Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapkindo) Sumut, Laksamana Adiyaksa, kepada wartawan koran ini kemarin Jumat (9/10) lalu di Medan. Menurut Laksamana, selama krisis keuangan berlangsung dan juga diterapkannya Bea Keluar (BK) pada April lalu, permintaan ekspor CPO dan harganya melemah.

Berdasarkan data Surat Keterangan Asal (SKA) periode Agustus 2009, ekspor CPO asal Sumut turun sebesar 39,59 persen jika dibanding pada periode sama setahun lalu. Volume ekspor pada Agustus 2009 tercatat 355,450,744 kg dan nilainya 218,399,385 dolar. Pada periode sama setahun lalu volume ekspor CPO beserta fraksinya berada di level 373,710,755 kg dan nilainya 361,534,136 dolar.

Komoditas ini diekspor ke beberapa negara tujuan seperti India, Mesir, China, Malaysia, Belanda, dan Singapura pada Agustus 2009. Negara tujuan ekspor inipun mengalami penurunan. Misalnya saja, pada Agustus 2009 tidak ada terjadi permintaan dari negara Pakistan, Ukraina dan Rusia.

Di tempat terpisah Kepala Seksi Hasil Pertanian dan Pertambangan Subdis Perdagangan Luar Negeri (PLN), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut, Fitra Kurnia mengatakan, BK yang diterapkan pemerintah bukan untuk membuat ekspor CPO dari Sumut menjadi anjlok. Tapi untuk menjaga stabilitas harga dan juga pasokan di dalam negeri. “BK hanya diterapkan jika harga CPO sudah di atas ketentuan. Sejak Agustus hingga bulan ini, tidak ada BK karena harga CPO berdasarkan Rotterdam di bawah 700 dolar per ton,” katanya.

Sementara pengamat perdagangan luar negeri Suhariel Latif mengatakan, sebelumnya ada isu harga CPO akan terdongkrak naik akibat adanya isu pasokan kedelai di beberapa negara produsen menipis. Tapi menurutnya, isu itu ternyata tidak bisa membuat harga CPO turut bergerak naik. Dia memprediksi pada Desember nanti, permintaan CPO baru akan bergerak naik. Soalnya di beberapa negara tujuan ekspor Sumut akan terjadi musim dingin.

Pada saat musim dingin, sambungnya, permintaan CPO diperkirakan akan naik hingga 10 persen. Selain permintaan, harga juga diprediksi akan bergerak naik. “Diprediksi harga di atas 700 dolar per metrik ton.

Sumber:http://www.hariansumutpos.com/

Read More

Popular Posts

Total Pageviews

Powered By Blogger · Designed By Blogger Templates